Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat M Rizky mengungkapkan lembaga legislatif Jabar tengah mendorong penyusunan kebijakan mitigasi bencana yang lebih kuat, termasuk penataan anggaran dan pemutakhiran sistem peringatan dini untuk pencegahan dan penanggulangan bencana.
Menurut Rizky, mitigasi tidak cukup mengandalkan regulasi, sehingga pemutakhiran teknologi juga harus menjadi prioritas untuk menghadapi iklim yang semakin sulit diprediksi.
"Patokan musim (zaman) dulu sudah tidak relevan. Hujan dan kemarau sekarang sulit diprediksi. Maka perlu teknologi yang lebih canggih, seperti alat pantau cuaca, sensor gempa, dan alarm banjir di sungai besar. Semua harus terintegrasi dengan BMKG dan instansi nasional lainnya," kata Rizky di Bandung, Senin.
Ia juga menyebut sistem peringatan dini (early warning system) yang telah dimiliki Jawa Barat masih perlu peningkatan.
Rizky mencontohkan, teknologi mitigasi bencana seperti perangkat elektronik yang harus terus ditingkatkan.
"Seperti HP atau komputer, harus ada upgrading. Harapannya Jawa Barat segera melakukan pemutakhiran agar peringatan banjir, pantauan cuaca, dan sensor gempa bisa lebih canggih," ujarnya.
DPRD Jawa Barat, kata Rizky, berharap peningkatan teknologi dan sistem mitigasi dapat menekan risiko banjir, longsor, serta bencana hidrometeorologi lainnya yang kerap melanda wilayah ini.
Langkah itu, dinilainya krusial di masa ketika pola cuaca tidak lagi dapat diprediksi dengan pola musiman konvensional. Terlebih saat ini hujan dengan intensitas tinggi mulai melanda Jawa Barat.
Dan di Jawa Barat, menurut dia, intensitas hujan yang meningkat tidak diimbangi kemampuan lahan menyerap air akibat menurunnya kawasan resapan, sehingga risiko banjir di wilayah hilir kembali menguat.
Rizky mengatakan kerusakan lingkungan yang menyebabkan berkurangnya daya serap tanah sebagian besar dipicu aktivitas manusia. Hilangnya lahan lindung, kata dia, membuat air hujan tidak lagi tertampung optimal, yang juga harus menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
"Kerusakan lingkungan ini salah satunya akibat campur tangan manusia. Lahan lindung yang hilang membuat kapasitas dasar menyerap air hujan menurun. Ini juga harus jadi perhatian kita," ujar Rizky menambahkan.
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025