Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi lonjakan harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Dari siaran pers, Minggu, Farhan menyebut tingkat inflasi Kota Bandung pada Oktober 2025 mencapai 2,53% (year-on-year), lebih rendah dibandingkan Provinsi Jawa Barat (2,63%) dan nasional (2,86%). Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga masih terjaga. Namun, ia mengingatkan potensi gejolak menjelang Natal dan Tahun Baru.
“Bandung ini kota wisata. Mobilitas tinggi menjelang Nataru bisa jadi peluang ekonomi, tapi juga ancaman inflasi kalau tidak diatur. Kita harus pastikan semua nyaman –yang berlibur, yang berjualan, maupun yang merayakan,” ujarnya.
Farhan memaparkan empat strategi utama yang akan dijalankan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk menghadapi situasi tersebut.
1. Menjamin ketersediaan pangan. Farhan meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menjaga stok bahan pokok sekaligus melakukan rebranding program Buruan SAE.
2. Menata supply chain dan pasar. Farhan menuturkan, urusan distribusi tak boleh diabaikan, bahkan masalah kebersihan pasar bisa berdampak langsung pada logistik pangan. .
3. Gerakan pasar murah. Langkah ini disebut sebagai intervensi kecil tapi penting.
4. Komunikasi publik yang menenangkan. Farhan meminta Dinas Kominfo agar penyebaran informasi ekonomi dilakukan secara aktif.
Farhan menyarankan untuk membuat dialog dengan pelaku usaha, media, dan masyarakat. Ia menekankan pentingnya edukasi publik agar tetap tenang dalam menghadapi ketidakstabilan harga.
Farhan juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja sebagai pendamping upaya menekan tingkat pengangguran terbuka.
“Kalau yang tumbuh hanya sektor informal, produktivitasnya tidak steady. Kita ingin pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi yang baik harus disertai pemerataan. Itu tantangan terbesar Bandung ke depan,” tegasnya.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung, Dudi Prayudi, dalam laporannya, ia menyebut bahwa Bandung merupakan kota dengan tingkat konsumsi yang tinggi dan masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
“Ketergantungan ini membuat kita rentan terhadap fluktuasi harga, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru,” ungkap Dudi.
Ia menambahkan, inflasi Oktober 2025 sebesar 2,53% menunjukkan kondisi yang masih terkendali. Namun, harus tetap siap siaga menghadapi potensi kenaikan permintaan.
“Forum ini tidak hanya diskusi, tapi pengambilan keputusan strategis agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga,” ujarnya.
Perkara tersebut disampaikan di High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bertema “Evaluasi Stabilitas Inflasi dan Indikator Makro Ekonomi Triwulan III 2025”, di Hotel Mercure Bandung City Centre pada Rabu (12/11), yang digelar oleh Pemkot Bandung.
Forum ini menghubungkan lintas unsur strategis, Bank Indonesia, BPS, akademisi Unpad dan Unpas, hingga para kepala OPD, dengan tujuan memastikan strategi ekonomi Bandung tetap selaras antara data, kebijakan, dan realita lapangan.
Melalui sinergi yang solid, Bandung dapat menyambut akhir tahun dengan penuh optimisme, harga tetap stabil, masyarakat merasa tenang, dan perekonomian kota tumbuh dengan kualitas yang baik.
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025