Harga emas kembali jatuh pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk sesi kedua berturut tertekan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang lebih kuat di tengah tanda-tanda bahwa laporan pekerjaan AS untuk Juni dapat membuat Fed lebih hawkish.
"Prospek berkelanjutan untuk inflasi di atas target dan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Logan.
Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga akhir tahun ini mendorong emas untuk menetap di level terendah Kamis (6/7/2023) sejak 14 Maret.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Emas jatuh tertekan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih kuat
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2023
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange merosot 11,70 dolar AS atau 0,61 persen menjadi ditutup pada 1.915,40 dolar AS per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di 1.934,00 dolar AS dan terendah di 1.908,50 dolar AS.
Emas berjangka tergelincir 2,40 dolar AS atau 0,12 persen menjadi 1.927,10 dolar AS pada Rabu (5/7/2023), setelah naik tipis 0,10 dolar AS atau 0,01 persen menjadi 1.929,50 dolar AS pada Senin (3/7/2023), dan melonjak 11,50 dolar AS atau 0,60 persen menjadi 1.929,40 dolar AS pada Jumat (30/6/2023).
Bursa Comex tutup pada Selasa (4/7/2023) untuk hari libur memperingati Kemerdekaan AS.
Dalam sambutannya pada pertemuan tahunan Asosiasi Riset Bank Sentral di New York Kamis (6/7/2023), Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan mengatakan dia tetap khawatir tentang apakah inflasi akan kembali ke target Fed 2,0 persen secara berkelanjutan dan tepat waktu."Prospek berkelanjutan untuk inflasi di atas target dan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Logan.
Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga akhir tahun ini mendorong emas untuk menetap di level terendah Kamis (6/7/2023) sejak 14 Maret.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Emas jatuh tertekan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih kuat
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2023