Antarajawabarat.com,10/7 - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat akan mengumpulkan seluruh sektor hulu hingga hilir untuk membicarakan titik permasalahan dan solusi dari kenaikan harga daging ayam di pasaran beberapa waktu lalu.

"Adapun pertemuan yang rencananya akan dilakukan Senin(15/7) mengundang mulai dari peternak, breeder hingga ke pedagang di lapangan," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofwan Arif, di Kota Bandung, Rabu.

Menurut dia,, sebelumnya Disperindag Jawa Barat juga telah melakukan koordinasi dengan Sekda Jawa Barat Wawan Ridwan dan biro-biro terkait untuk membahas hal tersebut.

"Jadi yang ingin kita dorong dan imbau kan ujung-ujungnya untuk kepentingan masyarakat juga," kata dia.

Dikatakan Ferry, selama ini komoditas ayam merupakan salah satu komoditas yang paling cepat kenaikannya seperti yang terjadi pada bulan Juni harga ayam masih berada di angka Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogramnya.

"Tapi memasuki bulan Juli harganya sudah berkisar dari Rp28 ribu hingga Rp32 ribu per kilogrmanya. Belum lagi hari Senin lalu atau memasuki awal Ramadhan rata-rata harga ayam di Kota Bandung sudah ada pada kisaran Rp38 ribu per kilo," katanya.

Menurut dia, harga ini jelas lebih tinggi jika dibanding enam kota lain yang menjadi hitungan inflasi di Jawa Barat karena untuk harga ayam di wilayah Bekasi dan Depok kisarannya ada di bawah Rp36 ribu.

Padahal logikanya, lanjut Ferry, pengiriman ayam dari kawasan Priangan Timur ke Bandung sama lancarnya seperti ke kawasan Bekasi dan Depok.

"Ya itu tadi kenapa Bekasi dan Depok bisa lebih murah? Kita harus liat dari hulu ke hilir. Kita lihat ada berapa tangan sih di Bandung yang semuanya ngambil margin keuntungan. Ini yang dihilir makai mekanisme pasar tapi yang tidak terkendali saya kira," katanya.

Ia menuturkan, dari sisi demand pun daya beli masyarakat di wilayah Bandung yang dinilainya relatif tinggi juga mempengaruhi kenaikan harga ayam di pasaran.

"Belum lagi konsumen dari pihak hotel, restoran, hingga catering yang juga membeli dalam jumlah yang tidak sedikit. Ini juga ada indikasi terkatrol oleh harga daging sapi yang bertahan di harga tinggi. Nampaknya di sisi hilir lah yang mendorong kenaikan," katanya.***3***

Ajat S

Pewarta:

Editor : Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2013