Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana menugaskan para kepala desa yang daerahnya terdampak kebocoran minyak mentah milik Pertamina untuk menginventarisasi kerugian yang diderita warganya.

"Saya menerima keluhan dari petani tambak yang bibitnya pada mati karena air areal tambaknya tercemar limbah. Ada juga nelayan yang tidak melaut karena tangkapannya berkurang drastis akibat laut tercemar minyak mentah," katanya saat dihubungi di Karawang, SabtU.

Sejak beberapa hari terakhir, kondisi air laut di wilayah perairan utara Karawang terkontaminasi minyak mentah akibat insiden kemunculan gas dan kebocoran minyak mentah di sekitar anjungan lepas pantai YYA, Blok migas Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

Daerah di sekitar bibir pantai wilayah perairan utara Karawang juga menghitam dan terlihat gumpalan-gumpalan hitam karena minyak mentah bercampur dengan pasir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat mencatat, ada tujuh desa yang terkena dampak bocornya minyak mentah. Di antaranya Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar, Desa Pakis Kecamatan Pakisjaya, serta Desa Sungaibuntu Kecamatan Pedes.

Selain itu juga Desa Sedari dan Desa Cemarajaya Kecamatan Cibuaya serta Desa Tambaksari dan Tambaksumur Kecamatan Tirtajaya.

Bupati mengaku sudah menyampaikan agar pihak Pertamina memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami masyarakat Karawang, khususnya para petani tambak dan nelayan.

Jadi untuk mendapatkan kompensasi, para kepala desa harus melakukan pendataan dampak dari bocornya minyak mentah tersebut.

Baca juga: Bupati Karawang desak Pertamina tanggung jawab dampak kebocoran minyak

Baca juga: Wabup Karawang kecewa kinerja DLHK dalam tangani pencemaran sungai


 

Pewarta: M.Ali Khumaini

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019