Jumlah titik panas di Provinsi Riau melonjak jadi 53

Jumlah titik panas di Provinsi Riau melonjak jadi 53

Petugas dari Ā Satgas Karhutla Provinsi Riau berusaha memadamkan bara api yang membakar lahan gambut di Desa Karya Indah, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (26/07/2019). Tim Satgas Karhutla terus melakukan upaya pemadaman di sejumlah daerah agar kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau tidak semakin meluas. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/wsj.

Pekanbaru (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyatakan jumlah titik panas yang jadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau melonjak jadi 53 titik, pada Sabtu sore.

“Jumlahnya bertambah dibandingkan pagi tadi ada 35 titik,” kata staf Analisis BMKG Statsiun Pekanbaru, Bibin kepada Antara di Pekanbaru, Sabtu.

Hasil pencitraan satelit Terra Aqua pada pukul 16.00 WIB menunjukan ada 53 titik panas (hotspot) yang tersebar di Riau. Paling banyak berada di Pelalawan, yakni 27 titik. Kemudian ada juga di Bengkalis sebanyak tujuh titik, Siak enam titik, Inhil lima titik, Inhu dua titik, dan masing-masing satu titik di Kepulauan Meranti, Rohil, Kampar, Kuansing, dan Rohul.
Baca juga: BRG sebut 15 titik panas Riau ada di lahan perusahaan sawit

Menurut Bibin, dari jumlah tersebut ada 25 titik yang tingkat keakuratan (level of confidence) di atas 70 persen. Kemungkinan besar itu merupakan titik api Karhutla.

Lokasi terbanyak adalah di Pelalawan, ada 20 titik. Posisinya di sebelah utara Kota Pekanbaru. “Ada banyak di daerah Langgam dan Pangkalan Kuras,” ujarnya.

Ia mengatakan arah angin berhembus dari arah baratdaya ke tenggara dan mengarah ke utara. Asap berpotensi mencapai Pekanbaru tergantung dari kecepatan angin yang berhembus.

“Kalau dari arahnya bisa ke Pekanbaru, tapi tergantung kecepatan anginnya. Sekarang ini angin berhembus lambat, kemungkinan kecil saja (asap) ke Pekanbaru,” ujarnya.

Lokasi lain yang terdapat titik api ada di Bengkalis sebanyak dua titik, dan sisanya di Kuansing, Rohul dan Inhu masing-masing satu titik.

Provinsi Riau kini berstatus Siaga Darurat Karhutla yang ditetapkan oleh Gubernur Riau sejak 19 Februari sampai 31 Oktober 2019. Satgas Karhutla Riau hingga kini terus berupaya memadamkan kebakaran, namun kondisi cuaca kering membuat kebakaran lahan gambut sulit dipadamkan.

Upaya pemadaman dilakukan oleh personel dari darat dan udara. Sejak awal pekan ini upaya pemadaman terus dilakukan di Langgam, Pelalawan. Pada Sabtu pagi terpantau helikopter sudah mengudara dari Pekanbaru untuk menjatuhkan bom air (water bombing).

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) manyatakan luas karhutla di Riau hingga pertengahan Juli 2019 sudah mencapai 27.683,47 hektare. Karhutla di Riau luasnya setengah dari total luas kebakaran di Indonesia, yang mencapai 42.740,42 hektare.

Riau juga tercatat sebagai daerah dengan jumlah titik panas terbanyak selama 2019, yakni 2.960 titik.
Baca juga: BMKG deteksi 80 titik panas di Riau
Baca juga: Karhutla di pesisir Riau masih membara

Pewarta : FB Anggoro
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019