Arus balik via darat, laut, udara di Jatim meningkat

Arus balik via darat, laut, udara di Jatim meningkat

Dokumentasi Sejumlah kendaraan pemudik arus balik terjebak kemacetan di kawasan Gerbang Tol Wilangan, Madiun, Jawa Timur, Selasa (19/6/2018). Puncak arus balik pemudik di ruas jalan tol Ngawi-Wilangan tersebut diperkirakan terjadi pada 19-20 Juni 2018. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Surabaya (ANTARA News) - Arus balik Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah dari berbagai daerah di Jawa Timur, baik menggunakan angkutan darat, laut dan udara Rabu mulai meningkat, seiring berakhirnya masa cuti bersama Lebaran 2018.

Seperti dilaporkan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Rabu malam, mengingat pada Kamis (21/6) sejumlah pekerja sudah mulai masuk kerja usai libur bersama.

Legal and Communication Section Head PT Angkasa Pura I Juanda Surabaya Yuristo Ardhi mengatakan, diperkirakan puncaknya akan terjadi pada hari ini sampai dengan malam nanti.

"Jumlah penumpang sampai dengan tanggal 19 Juni naik 4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017 yakni sebanyak 810.056 orang penumpang," ucapnya.

Ia mengemukakan, dari jumlah tersebut untuk penumpang domestik sebanyak 724.142 orang penumpang dan untuk jalur internasional yakni sebanyak 85.194 orang penumpang," ujarnya.

Sejauh ini arus mudik yang ada di Bandara Internasional Juanda Surabaya Jawa Timur berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala yang berarti.

"Dari data yang ada trafik tahun 2017 jumlah penumpang sebanyak 1.705.588 dengan jumlah pergerakan pesawat sebanyak 11.631. Sedangkan perkiraan trafik tahun 2018 jumlah penumpang sebanyak 1.749.050 dan jumlah pergerakan pesawat sebanyak 12.006," katanya.

Sedangkan dari Jember dilaporkan, tiket pesawat Garuda Indonesia untuk rute Jember-Surabaya di Bandara Notohadinegoro Kabupaten Jember, Jawa Timur, terjual habis untuk arus balik Lebaran 2018 hingga 22 Juni 2018.

"Penumpang sudah jauh-jauh hari pesan tiket pesawat menuju ke Surabaya, sehingga berdasarkan data kami tercatat penumpang Garuda Indonesia hingga 22 Juni 2018 sudah penuh 100 persen," kata Manajer PT Garuda Indonesia Area Wilayah Jember Heru Joko Satria.

Harga tiket pesawat Garuda Indonesia rute Jember-Surabaya tertinggi sebesar Rp602.000 dan terendah Rp315.000 karena sesuai dengan ketentuan ambang batas harga tiket pesawat jurusan Jember-Surabaya sebesar Rp600.000.

"Kami menggunakan batas bawah dan batas atas sesuai dengan ketentuan dalam penjualan tiket pesawat yang dapat dicek secara daring (online), sehingga harga tiket selama libur Lebaran tidak mengalami perubahan," tuturnya.

Sedangkan volume penumpang Garuda Indonesia untuk rute Surabaya-Jember kisaran 70-80 persen dari total 72 kursi yang ada, namun jumlah tersebut meningkat dibandingkan pada hari normal yang berkisar 60-70 persen.

Sementara Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Notohadinegoro Jember Edy Purnomo mengatakan kepadatan penumpang untuk arus balik di bandara yang berada di Kecamatan Ajung tersebut sudah terpantau sejak Minggu (17/6).

"Animo masyarakat untuk menggunakan transportasi udara di Jember cukup tinggi, bahkan jumlah penumpang terus mengalami peningkatan seiring dengan masa angkutan Lebaran 2018 yang diprediksi meningkat," katanya.

Ia menjelaskan peningkatan penumpang mencapai 25 hingga 30 persen dibandingkan hari biasa karena okupansi penumpang setiap penerbangan pada hari biasa berkisar antara 60 hingga 70 persen, sedangkan selama arus mudik dan balik Lebaran 2018 bisa mencapai 80 hingga 100 persen.

"Bahkan untuk tiket pesawat Garuda Indonesia dan Wings Air untuk arus mudik dan arus balik pada tanggal tertentu sudah habis terjual, termasuk tiket arus balik beberapa hari ke depan," katanya.

Edy mengatakan perjalanan pesawat Garuda dan Wings Air berjalan lancar selama arus mudik dan balik Lebaran di Bandara Notohadinegoro Jember, sehingga masyarakat diharapkan dapat menikmati perjalanan yang nyaman untuk menuju ke Surabaya maupun sebaliknya ke Jember.

"Hari ini dua maskapai baik Garuda Indonesia maupun Wings Air terisi penuh 100 persen untuk rute Jember-Surabaya, sedangkan penumpang yang terbang dari Bandara Juanda Surabaya menuju Jember untuk Garuda sebanyak 45 orang dan Wings Air sebanyak 40 orang," ujarnya.

Sementara itu, jumlah penumpang kapal feri dari Pelabuhan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jatim, ke sejumlah wilayah Pulau Madura dan sebaliknya pada Rabu atau "H+4" Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah meningkat hingga 200 persen dari hari sebelumnya.

"Jumlah penumpang rute Jangkar ke Pulau Raas pada hari ini yang merupakan puncak arus balik mencapai 328 orang atau naik 200 persen bila dibandingkan sehari sebelumnya yakni rute Jangkar ke Pulau Sapudi yang hanya 112 orang," kata Petugas UPT Pelabuhan Feri Jangkar, Kabupaten Situbondo, Tri Wahyono.

Sebaliknya, lanjut dia, jumlah penumpang dari Pulau Raas ke Jangkar juga meningkat yakni sebanyak 286 orang penumpang, dan mayoritas penumpang dari Pulau Raas pemudik yang akan kembali bekerja di Pulau Bali.

Sebanyak 326 penumpang kapal feri rute Jangkar-Raas itu, diangkut menggunakan Kapal Motor Penumpang (KMP) Dharma Kartika yang sebelumnya kapal feri tersebut mengangkut 286 penumpang dari Pulau Raas ke Jangkar.

"Kami juga tidak menyangka jumlah penumpang meningkat hingga 200 persen pada H+5 Lebaran ini dari hari sebelumnya," tuturnya.

Tri menambahkan, cuaca rute Pelabuhan Feri Jangkar ke Pulau Sapudi, Raas dan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura dan sebaliknya masih aman.

"Dari hasil koordinasi terkait dengan cuaca transportasi laut rute Jangkar ke beberapa pulau di Madura cukup aman dan kapal feri masih bisa mengangkut penumpang pada puncak arus balik hari ini," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pada Rabu sore dijadwalkan KMP Satya Kencana akan mengangkut penumpang dari Pulau Raas ke Jangkar dan direncanakan juga akan langsung bertolak kembali mengangkut penumpang ke Pulau Raas.

Sedangkan di Gresik, sekitar 6.800 pemudik di Pulau Bawean kembali ke Pelabuhan Gresik secara bertahap, karena minimnya kapal yang beroperasi setelah adanya gelombang tinggi yang melanda kawasan setempat dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Gresik Aguatinus Maun saat dikonfirmasi di Gresik, menuturkan tahap awal saat ini sudah sebanyak 500 pemudik yang diangkut kembali ke Gresik, dari total sekitar 6.800 pemudik dengan menggunakan Kapal Ekspres Bahari 8E.

Tidak sepenuhnya pemudik terangkut, kata Aguatinus, karena kebanyakan kapal masih belum beroperasi normal sejak tanggal 16 Juni 2018, atau sejak peringatan gelombang tinggi yang melanda kawasan Laut Jawa.

Ia mengatakan, dalam dua hingga tiga hari ke depan kapal yang beroperasi akan semakin banyak, dan pemudik yang terangkut diharapkan juga semakin banyak pula karena cuaca sudah terpantau kondusif dan gelombang mulai turun dibawah 2 meter dari awalnya 3,5 meter.

"Gelombang di bawah 2 meter sangat aman bagi pelayaran, ditambah beberapa kapal yang sebelumnya mengalami kerusakan sudah berangsur diperbaiki," tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Pelayaran Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik Muhammad Amri mengatakan akibat cuaca buruk beberapa kapal yang biasa melayani rute Gresik-Bawean atau sebaliknya mengalami kerusakan pada mesin kapal, sehingga menunda operasional kapal dalam beberapa hari.

"Laporan terakhir cuaca sudah normal, dan kapal sudah diperbaiki. Diharapkan ribuan pemudik bisa terangkut ke Gresik secepatnya," katanya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi terjadinya gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia dampak dari peningkatan kecepatan angin demi keselamatan dan kenyamanan beraktivitas di laut.

Kabid Informasi Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo mengatakan kecepatan angin timur saat ini mencapai 46 kilometer per jam. Kondisi angin tersebut diprakirakan akan bertahan hingga 26 Juni mendatang.

Sejumlah wilayah perairan yang berpotensi terjadi gelombang tinggi di antaranya Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan, Laut Banda, Laut Arafuru dan beberapa perairan yang berhadapan dengan laut lepas seperti perairan selatan Jawa hingga NTT.

"Kondisi ini tentu akan berdampak terhadap kelancaran arus balik Lebaran, khususnya bagi pengguna jasa angkutan laut," katanya, menambahkan.

Kereta Api

Puncak arus balik libur Lebaran 2018 di stasiun wilayah PT KAI Daop 7 Madiun, Jawa Timur, terjadi pada Selasa (19/6), dengan jumlah penumpang mencapai 21.641 orang.

"Sesuai prediksi, volume tertingi penumpang naik kereta di sejumlah stasiun wilayah Daop Madiun terjadi pada Selasa," kata Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun Supriyanto.

Menurut dia, jumlah penumpang yang mencapai 21.641 orang tersebut, meningkat signifikan dari hari sebelumnya yang mencapai 21.348 orang.

Puncak arus balik terjadi pada Selasa karena pegawai swasta mulai masuk kerja kembali pada 20 Juni 2018 setelah libur lebaran. Sedangkan pegawai negeri sipil akan kembali masuk kerja pada 21 Juni.

Dari jumlah keberangkatan atau penumpang naik sebesar 21.641 orang tersebut, jumlah penumpang yang khusus berangkat atau naik kereta dari Stasiun Madiun mencapai 5.986 orang.

"Angka itu naik signifikan jika dibandingkan dengan jumlah penumpang di Stasiun Madiun pada hari biasa yang berkisar antara 1.200 hingga 1.400 orang," kata Supriyanto.

Meski puncak arus balik telah terjadi, namun pihaknya memperkirakan kondisi arus balik atau keberangkatan di wilayah Daopnya masih cukup tinggi, menyusul libur lebaran yang belum selesai. Kalangan siswa masih mengalami libur karena sekolah baru akan masuk kembali pada awal bulan Juli mendatang.

"Jumlah penumpang naik atau arus balik masih cukup tinggi. Data masuk pada Rabu pagi, penumpang naik di Daop Madiun diperkirakan berjumlah 19.569 orang. Khusus Stasiun Madiun mencapai 5.299 orang," imbuhnya.

Jumlah tersebut masih bisa bertambah karena ada calon penumpang yang menggunakan layanan diskon harga tiket melalui pembelian tiket "go show".

Sementara itu, jumlah kumulatif penumpang yang naik atau berangkat di wilayah Daop 7 Madiun pada 5-19 Juni 2018 mencapai sebanyak 181.269 penumpang. Jumlah tersebut naik dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat mencapai 179.600 penumpang.

Dari Malang dilaporkan, arus balik Lebaran 2018 yang menggunakan kereta api di Stasiun Kotabaru Kota Malang mulai meningkat, sedangkan petugas terus melakukan pelayanan kepada pemudik secara optimal.

Kepala Stasiun Kotabaru Malang Arief Nugroho di Malang, Rabu, mengemukakan pada Selasa (19/6) tercatat sekitar 5.400 penumpang berangkat dari stasiun setempat.

"Sejak 17 Juni hingga hari ini ada peningkatan jumlah penumpang hingga lima persen, khusus kemarin (19/6) saja ada 5.400 penumpang yang berangkat dari Malang," kata dia.

Untuk penumpang kedatangan, lanjutnya, puncaknya pada 17 Juni hingga Rabu ini. Penumpang yang turun di stasiun tersebut mencapai 6.700 orang, sedangkan untuk tiket kereta arus balik sudah terjual hingga 26 Juni mendatang, bahkan KAI menambah tempat duduk kereta premium rute Malang-Surabaya sebanyak 600 kursi.

Bagi calon penumpang KA dari Malang yang belum mendapatkan tiket, katanya, harus bersabar karena baru 27 Juni 2018 sejumlah rute perjalanan yang longgar.

"Mau tidak mau calon penumpang harus bersabar untuk mendapatkan tiket ke sejumlah jurusan," ujarnya.

Menurut Arief, meningkatnya jumlah penumpang KA dari Kota Malang ke berbagai tujuan karena dipengaruhi kunjungan wisatawan dari daerah di seluruh Tanah Air. Sebelum mereka (wisatawan) terbang ke daerah masing-masing, banyak yang menggunakan moda transportasi kereta.

Ia mengakui beberapa kali ditanya penumpang terkait dengan tujuan wisata di Malang raya. Sekarang wisata cukup ramai karena liburan. Lebarannya kan sudah selesai, tetapi penumpang masih cukup ramai karena tujuan wisata ke beberapa destinasi wisata.

Menyinggung pelayanan angkutan kereta api selama arus mudik dan balik Lebaran 2018, Arief mengatakan tidak ada kendala berarti.

"Kami juga menambahkan fasilitas kursi di ruang tunggu agar calon penumpang merasa nyaman dan aman saat menunggu kereta," tuturnya.
Pewarta : Chandra Hamdani Noor
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018