Mengulik tentang "slow living" lewat Simple Life 1.0

Mengulik tentang

Salah satu pojok di pameran Simple Life 1.0 di Ashta District 8, Jakarta. ANTARA/HO.

Jakarta (ANTARA) - Konsep "slow living" kian menjadi salah satu pilihan untuk menjalani hidup di dunia yang serba cepat ini, walaupun masih belum terlalu masif digaungkan.

Pameran Simple Life 1.0 yang diadakan di Ashta District 8 Jakarta bisa menjadi alternatif untuk mengulik lebih jauh konsep tersebut.

"Acara ini memperkenalkan kita dengan berbagai brand lifestyle yang tidak hanya kekinian tapi juga ramah lingkungan," ujar Nabyl Perdanakusuma, Co-Founder & CMO indonesiagreen.com yang merupakan platform crowdfunding donasi energi terbarukan pertama di Indonesia, melalui keterangannya pada Rabu.

Lebih lanjut, Nabyl mengatakan energi terbarukan memiliki potensi untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat akan pentingnya keberlanjutan di berbagai sektor kehidupan.

"Dengan menerapkan konsep slow living, maka kita akan lebih aware terhadap kehidupan lingkungan sekitar dan mengedepankan sustainability. Jadi, dengan konsep hidup tersebut penggunaan energi terbarukan di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan tidak terbatas," kata anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya tersebut.

Baca juga: Cove Hillcrest tawarkan co-living aman dan nyaman untuk mahasiswa

Baca juga: Siklus Refill jadi solusi kurangi sampah plastik rumah tangga


Sebagai informasi, slow living mengacu pada gaya hidup yang mendorong pendekatan yang lebih lambat terhadap aspek kehidupan sehari-hari. Ini telah didefinisikan sebagai gerakan atau tindakan dengan kecepatan yang lebih santai.

Dikutip dari berbagai sumber, konsep ini dimulai di Italia dengan gerakan makanan lambat, yang menekankan teknik produksi makanan tradisional dalam menanggapi munculnya makanan cepat saji selama tahun 1980-an dan 1990-an.

Biasanya, slow living juga mencakup untuk hal-hal lainnya seperti slow food, hingga slow city -- yang terkadang diusulkan sebagai solusi untuk konsekuensi negatif dari gaya hidup materialistis dan industri.

Beberapa praktisi slow living menggunakan istilah "slow" sebagai akronim untuk menunjukkan berbagai masalah yang menjadi fokus kehidupan lambat. "S" mengacu pada berkelanjutan (sustainability), yang berarti memiliki dampak yang terbatas.

Huruf "L" mengacu pada lokal (local), artinya menggunakan bahan dan produk yang secara geografis dekat dengan orang tersebut atau diproduksi di dekat mereka.

Lebih lanjut, "O" mengacu pada organik (organic), yang berarti menghindari produk yang telah direkayasa secara genetik atau diproduksi secara massal. Terakhir, "W" mengacu pada keseluruhan (whole), artinya tidak diproses.

Sementara itu, Simple Life 1.0 di Ashta akan berlangsung hingga 1 Agustus 2021.

Baca juga: Tiga mal Jakarta integrasikan teknologi buat pengalaman "Mall 4.0"

Baca juga: Rukita hadirkan fitur Mods

Baca juga: Webex Suite berikan fitur penunjang kerja hibrida
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021