Terapi susu

Terapi susu

Peternak memerah susu kambing peranakan etawa (PE) di peternakan Kelompok Tani Ternak Purbaya, Nglanggeran Wetan, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. (ANTARA /Aditya Pradana Put)

Jakarta (ANTARA) - Tradisi minum susu telah dikenal sejak 8000 SM di kawasan Timur Tengah. Menurut ilmuwan University College London, tradisi minum susu dikenal sejak 7500 tahun lalu di Balkan dan Eropa Tengah. Sementara menurut mitologi Yunani kuno, Dewi Hera menumpahkan susu saat menyusui Heracles. Tumpahan susu itu menjelma menjadi Galaksi Bimasakti.

Di Indonesia sendiri mulai dikenal sejak tahun 1950-an. Susu dahulunya tidak diminum langsung, tetapi diolah menjadi keju, mentega, dan yoghurt. Istimewanya, protein susu telah dijumpai pada lukisan keramik Hungaria dan Rumania yang berusia antara 7450-7900 tahun.

Mengingat betapa penting susu, maka setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari susu nasional, sedangkan setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari susu sedunia. Selain ASI, kita mengenal susu sapi, susu kambing, dan susu kedelai.

Susu sapi kaya akan air (86,8 persen) dan kalori (70/100 ml). Protein (3,3 persen) terdiri dari 20 asam amino dimana delapan di antaranya penting untuk manusia, kasein (80 persen) terdiri dari 20 tipe genetik, protein whey (20 persen) terdiri dari beta laktoglobulin, alfa laktalbumin, serum albumin, imunoglobulin proteosepepton, mikroprotein (enzim, hormon).

Lemak (4,4 persen) yang terdiri dari asam-asam lemak, gliserid (tri, di, dan monogliserid), fosfolipid (lesitin di semua sel-sel hewan), sterol (terutama kolesterol yang penting untuk otak). Laktosa (4,8 persen) terdiri dari galaktosa dan glukosa, nitrogen (3,4 persen), kasein (2,4 persen), kalsium (0,19 persen), fosfor (0,27 persen), klorida (0,15 persen), besi (0,07 persen), vitamin A (39 RE), vitamin B (68 ug), riboflavin (210 ug), vitamin C (2 mg), vitamin D (0,3 IU), vitamin E dan K.

Baca juga: 5 manfaat lain susu untuk kesehatan tubuh

Mineral terdiri dari makromineral (Ca,P,K, Cl,Na,Mg) dan mikromineral (Zn,Cr,I,F,Fe,Cu,Co,Mn). Trace elemen (enzim, hormon, gas, senyawa NPN, komponen terikat S). Susu sapi segar baik untuk ibu hamil dan menyusui. Pemberian susu sapi untuk bayi dan anak harus diawasi dokter karena menyebabkan defisiensi zat besi dan diare. Untuk bayi yang alergi susu sapi, dapat diberikan susu formula hidrolisat ekstensif. Namun, ASI tetap merupakan pilihan terbaik untuk bayi dengan alergi susu sapi.

Susu kambing mengandung kalori (69/100 ml), protein (3 persen), lemak (3,6 persen), laktosa (4,7 persen), nitrogen (3,2 persen), kasein (2,6 persen), kalsium (0,18 persen), fosfor (0,23 persen), klorida (0,1 persen), besi (0,08 persen), vitamin A (21 RE), vitamin B (45 ug), riboflavin (159 ug), vitamin C (2 mg), vitamin D (0,7 IU). Kandungan lemaknya lebih mudah dicerna daripada susu sapi.

Bayi yang hanya minum susu kambing rentan terkena anemia megaloblastik (kurang zat besi) akibat defisiensi folat. Kambing rentan terhadap bruselosis, sehingga susunya harus dipanaskan sebelum dikonsumsi. Tubuh manusia mampu mencerna susu kambing hanya sekitar 20 menit, sedangkan untuk mencerna susu sapi memerlukan waktu 2-3 jam.

Susu kambing berkhasiat memperpanjang usia. Beberapa tokoh dapat mencapai usia lebih dari 100 tahun karena rajin minum susu kambing. Misalnya: Jonathan Hartop (138 tahun), Margaret Patton (137 tahun), Peter Czartin (184 tahun), Thomas Parr (152 tahun). Konon, Mahatma Gandhi selalu sehat karena suka minum susu kambing.

Selain itu, susu kambing membantu pencernaan dan menetralkan asam lambung, tidak menimbulkan alergi seperti yang ditimbulkan susu sapi, menstabilkan tekanan darah, menurunkan risiko terkena stroke dan penyakit jantung, membantu meningkatkan pH darah, mampu membunuh mikroba karena mengandung asam kaprilat dan kaprat, kaya antioksidan dan selenium untuk kekebalan tubuh.

Baca juga: Bolehkah minum susu kuda atau unta?

Selain itu, susu kambing mengandung kadar fluorin 10-100 kali lebih tinggi daripada susu sapi sehingga berkhasiat antiseptik alami yang menekan pertumbuhan bakteri, mudah diserap tubuh manusia, aman dikonsumsi penderita radang usus, gangguan pencernaan (diare), bayi di atas enam bulan, dan lanjut usia.

Menurut The American Journal of Clinical Nutrition, susu kambing terbukti mempercepat pembakaran lemak. Manfaat susu kambing juga untuk kesehatan tulang. Riset terhadap 195 wanita berusia 10-12 tahun, menunjukkan konsumsi keju berbahan baku susu kambing menghasilkan total kepadatan tulang dan ketebalan korteks (lapisan luar) tulang lebih tebal daripada kelompok lainnya.

Adapun kandungan zat gizi susu kedelai (tiap 200 gram kedelai) tanpa gula dan coklat: air (15 g), energi (830 Kcal), protein (73 g), lemak (40 g), karbohidrat (60,6 g), lemak tersaturasi (6 g), lemak monosaturasi (9 g), lemak poliunsatrurasi (22,6 g), kolesterol (0 mg), serat (18,6 g), fitat (2946 mg), vitamin A (6 RE), vitamin D (0 mcg), vitamin E (6 TE), vitamin C (6 mg), thiamin (0,8 mg), riboflavin (1,4 mg), niasin (2 mg), vitamin B6 (0,4 mg), folat (266 mg), vitamin B12 (0 mg), asam pantotenat (0,86 mg).

Selanjutnya, kalsium (556 mg), fosfor (1410 mg), magnesium (560 mg), potassium (3596 mg), sodium (6 mg), mangan (5,06 mg), tembaga (3,3 mg), zat besi (31,6 mg), seng (10 mg), berbagai asam amino seperti: tirosin (1060 mg), treonin (3170 mg), isoleusin (3540 mg), leusin (5946 mg), lisin (4860 mg), metionin dan sistein (2162 mg), fenilalanin (3810 mg), tirosin (2760 mg), valin (3640 mg), arginin (5660 mg), histidin (1970 mg).

Susu kedelai baik untuk ibu hamil dan menyusui, juga pendamping ASI bila ASI tidak keluar. Bila menginginkan, maka susu kedelai boleh saja diberi gula dan coklat. Pemberian susu kedelai tidak dianjurkan untuk bayi kurang dari enam bulan.

Baca juga: ASI siapkan perut bayi untuk mencerna makanan padat

*) dr Dito Anurogo MSc adalah dosen FKIK Unismuh Makassar yang hobi minum susu setiap hari, instruktur literasi baca-tulis tingkat nasional 2019, Director networking IMA Makassar, pengurus Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI), dokter literasi digital, penulis puluhan buku, kepala LP3AI ADPERTISI, anggota Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), pengurus APKKM, pegiat Forum Lingkar Pena (FLP), Dewan Penasihat dan Pembina Sci.id dan Menusa, penggagas Indonesia Menulis (Writenesia)
 
Pewarta : dr Dito Anurogo MSc *)
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019