Kemristekdikti sebut baru 63 LPTK untuk cetak guru SMK berkualitas

Kemristekdikti sebut baru 63 LPTK untuk cetak guru SMK berkualitas

epala Biro Perencanaan Kemenristekdikti, Erry Ricardo Nurzal, dan Direktur Pembelajaran Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Paristiyanti Nurwardani. (Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menyebutkan saat ini baru ada 63 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mencetak guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berkualitas.

"Untuk menyiapkan guru SMK terbaik, kami melakukan seleksi. Dari 422 LPTK yang ada, yang kami beri izin hanya 63 LPTK," ujar Direktur Pembelajaran Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemristekdikti, Paristiyanti Nurwardani, usai membuka seminar Pendidikan Profesi Guru (PPG) Vokasi di Tangerang Selatan, Banten, Selasa.

Syarat untuk bisa menjadi LPTK guru vokasi yakni harus berakreditasi A dan dosennya harus memiliki sertifikat kompetensi. Begitu juga untuk PPG Vokasi yang baru diselenggarakan oleh dua LPTK.

"Saat ini sudah bertambah menjadi enam, meskipun yang empat belum terbit izin resminya."

Sebanyak enam LPTK yakni Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Negeri Medan.

Baca juga: Kemendikbud tingkatkan kompetensi guru SMK

Menurut dia, tidak semua LPTK bisa menjadi penyelenggara PPG vokasi karena syaratnya cukup berat yakni dosennya harus memiliki sertifikat kompetensi, kampusnya memiliki tempat praktik, berkolaborasi dengan industri, memiliki tempat uji kompetensi, dan menjadi lembaga sertifikasi profesi.

Selain itu, LPTK tersebut juga harus membuat inovasi pembelajaran untuk program PPG Vokasi itu, seperti pembelajaran daring dan realitas virtual atau "virtual reality" maupun "augmented reality" atau realitas tertambah.

Kepala Biro Perencanaan Kemenristekdikti, Erry Ricardo Nurzal, mengatakan saat ini Indonesia kekurangan 122.000 guru vokasi. Selain itu, program studi vokasi baru ada dua padahal idealnya ada 49 prodi vokasi.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong akan adanya PPG Vokasi mandiri, program studi baru sesuai kebutuhan, kerja sama dengan politeknik, sertifikat kompetensi, magang di industri, pembelajaran daring, dan menciptakan inovasi teknologi untuk pembelajaran.

"Hal ini penting dilakukan untuk mempercepat tersedianya guru-guru vokasi atau SMK yang berkualitas," kata Erry.

Baca juga: Kompetensi guru persoalan utama SMK
Baca juga: Siswa Indonesia sulit bekerja sama

 
Pewarta : Indriani
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2019