Kemenristekdikti : diaspora bangun Indonesia dari belahan dunia

Kemenristekdikti : diaspora bangun Indonesia dari belahan dunia

Kepala Bagian Perenacanaan dan Pengangaran Ditjen SDID Kemristekdikti Agus Susilohadi (kiri) dan Asisten professor Departemen Teknik Kimia dan Lingkungan di University of Nottingham Inggris, Bagus Putra Muljadi (kanan), saat berkunjung ke Redaksi Antara di Jakarta, Senin (26/8/2019). ANTARA/Anom Prihantoro/am.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyebutkan ilmuwan diaspora Indonesia yang ada di luar negeri memiliki peran dalam membangun Indonesia dari belahan dunia manapun.

"Jadi kalau dulu Presiden Jokowi ada konsep membangun Indonesia dari pinggiran, maka sekarang kita perluas. Dengan adanya diaspora Indonesia bisa membangun Indonesia dari belahan dunia manapun," ujar Kepala Bagian Perencanaan dan Penganggaran Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Agus Susilohadi, saat berkunjung ke kantor ANTARA di Jakarta, Senin.

Ia menambahkan setiap tahun setidaknya ada 50 diaspora Indonesia yang datang ke forum Simposiun Cendekia Kelas Dunia (SCKD) yang diselenggarakan Kemenristekdikti. Diaspora Indonesia yang dimaksud adalah ilmuwan asal Indonesia yang saat ini berkarir di sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.

SCKD 2019 diselenggarakan mulai 18 Agustus hingga 25 Agustus 2019. Melalui kegiatan tersebut, para diaspora disebar ke sejumlah perguruan tinggi di daerah untuk menjalin jejaring, membuka akses kerja sama luar negeri, dan juga membimbing dosen dalam penulisan jurnal.

"SCKD merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap pengembangan SDM. Kata kunci dari pidato Presiden Jokowi pada 16 Agustus lalu itu adalah manajemen talenta dan diaspora. Melalui kegiatan ini, sudah waktunya membidik orang-orang hebat Indonesia yang berkarir di luar negeri," terang dia juga.

Menurut dia, saat ini ada pergeseran persepsi di masyarakat yang mana ketika berbicara mengenai diaspora tidak lagi ingin dibawa pulang ke Tanah Air, tetapi bisa memberikan sumbangsih dimana saja.

"Pemerintah tidak membawa pulang para diaspora ini, melainkan diberikan penguatan. Semakin kuat posisinya, maka semakin dekat dengan pengambil keputusan dan berperan untuk bangsa," tambah dia lagi.

Agus juga menambahkan berakhirnya SCKD tersebut, bukan berarti berakhir pula kerja para diaspora. Justru hal itu awal dari kerja mereka untuk berkolaborasi dengan peneliti di dalam negeri.

"Kami sudah pilih, sehingga ilmuwan yang datang pada SCKD 2019, yang bidang ilmunya akan menunjang pembangunan Indonesia ke depannya," kata dia lagi.

Dari hasil SCKD 2018 lalu, kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan dalam negeri telah menghasilkan 25 jurnal yang sedang dikaji, 30 jurnal yang sudah didaftarkan, 18 jurnal manuskrip, 35 jurnal yang sudah diterima, 28 prosiding, 90 jurnal yang sudah publikasi,dan 18 konferensi hingga kursus pendek di universitas terbaik dunia. 

Baca juga: Diaspora bahasakan manajemen talenta sebagai "Kopassus Ilmuwan"

Baca juga: Kemenristekdikti: SCKD "jembatan" bagi peneliti pemula bermitra

 
Pewarta : Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019