Titi Nuryati (34) dulu tak pernah meneguk kopi. Baginya, minuman itu terlalu getir, hanya layak bagi para lelaki tua di desanya. Bahkan dirinya pernah mengernyit saat mencium aromanya.
Namun, hidup kerap berkelindan tak terduga. Dari rasa yang pernah ditolak, Titi malah jatuh hati pada biji kopi, yang kemudian membawanya jadi sosok penggerak sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi.
Perempuan ini mampu melambungkan jenama kopi robusta asal Desa Cibeureum, Kuningan, Jawa Barat, dari kafe lokal hingga konsumen mancanegara.
“Setelah ikut memetik, menjemur, sampai menyangrai, ternyata rasanya lain ketika kopi lahir dari tangan sendiri,” tutur Titi Nuryati kepada ANTARA, suatu sore di bulan Oktober.
Sembari menatap hamparan jemuran biji yang berkilau disapu cahaya sore, Titi mengingat kilas balik saat memutuskan terjun pada dunia kopi.
Ia menghabiskan masa mudanya di Jakarta, bekerja di industri rumahan pembuat kue kering. Setelah menikah pun, tangan terampilnya tetap bergulat dengan loyang.
Meski begitu, hidupnya tak berhenti di industri ini. Sebab, Titi menemukan arah baru ketika melihat kopi di kampungnya yang lama terabaikan.
Ada peluang
Semua itu bermula dari ketidaksengajaan, yakni gegara 10 kg kopi yang tertinggal di gudang rumahnya pada 2016.
Niat hati, kopi itu hendak dibawa ke Jakarta sebagai buah tangan untuk saudaranya. Tapi, karung berisi kopi itu lupa dimasukkan ke dalam mobil.
Pada saat bersamaan, di Desa Cibeureum sedang berlangsung Jagakali International Art Festival. Kebetulan pula rumahnya jadi tempat berkumpul para seniman.
Daripada terbuang, biji kopi tersebut akhirnya diolah, lalu diseduh untuk tamu yang datang silih berganti.
Selama dua bulan penuh, aroma kayu bakar selalu menyeruak di dapur rumahnya. Cangkir kopi yang disuguhkan pun ludes, disesap oleh para tamu.
Banyak tamu yang menyatakan kepincut dengan cita rasa otentik dari minuman hasil racikan Titi. Tamu penting dari Keraton Kanoman Cirebon lantas bertanya, tentang asal kopi yang dinikmati tadi.
“Dari sini, dari Cibeureum,” jawab Titi spontan saat itu. Ucapan tersebut menancap di benaknya. Ia pun sadar kopi bisa menjadi identitas sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat.
Ia memberanikan diri memberi sampel kopi ke sejumlah kedai pada 2017. Setahun penuh, bersama suaminya berkeliling mencari pasar. Jalannya tak mudah, kadang ada penolakan sampai produk kopinya tak dilirik sama sekali.
Alasannya beragam seperti biji kopi belum disortir dengan baik maupun tampilan kurang menarik. Alih-alih menyerah, Titi menjadikan kritik itu sebagai pelajaran.
Titi mempelajari seluk-beluk kopi setelah bertemu seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari situlah, dirinya tahu Kuningan sebenarnya merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Jawa Barat dengan produksi mencapai 1.700 ton per musim.
Mengejutkannya lagi, kopi asal desanya sudah lama dipakai oleh kedai-kedai ternama di Bandung karena rasanya lebih nikmat dibanding robusta dari daerah lain.
Fakta itu semakin memicu tekadnya, jika kopi mereka sudah diakui, mengapa tidak mengelolanya sendiri?
Melepas belenggu
Selama menekuni proses tersebut, ia paham harga kopi di tingkat petani terlalu rendah, hanya Rp12 ribu per kg. Padahal dari hulu sampai hilir industri ini, sekitar 40 persennya merupakan jerih payah petani.
Titi mengulik lebih dalam soal distribusi. Ternyata, dari petani ke pembeli besar, penyerapan kopi harus melewati tiga perantara. Artinya setiap tengkulak mengambil selisih harga.
Kalau bisa memangkas dua tengkulak saja, harga untuk petani bisa naik sekitar Rp4 ribu per kg. Selisih segitu sudah besar bagi mereka.
Titi mulai menjual langsung ke pengepul besar, menampung kopi dari petani, membawa ke pasar. Setelahnya langsung membayar hasilnya.
Harga kopi pun mulai merangkak naik. Nilainya mencapai Rp20 ribu per kg pada 2021. Setahun kemudian menjadi Rp25 ribu-Rp30 ribu. Angka tertinggi menembus Rp60 ribu per kg hingga Mei 2025.
Ia cuma pegang dua modal yakni nekat dan kepercayaan. Hal inilah yang membuat petani semakin yakin kepadanya.
Ilmu dari kebun
Jika ditarik ke belakang, jejak kopi di Desa Cibeureum sudah ada sejak lama. Bahkan dapat dilacak hingga zaman penjajahan.
Aktivitas perkebunan kopi di Cibeureum mulai bergeliat lagi setelah banyak warga desa ikut transmigrasi ke Lampung pada 1970-an.
Mereka belajar menanam kopi di sana, lalu pulang membawa bibit ke Kuningan sekitar 1980-an.
Tantangan pengembangan kopi masih membentang. Dari hama penggerek batang, embun jelaga, hingga iklim yang kian sulit ditebak.
Petani kadang enggan menerima cara baru untuk budidaya kopi, karena lebih nyaman dengan pola jadul.
Meski begitu, Titi tak menyerah untuk mengedukasi petani agar mempraktikkan teknik budidaya kopi yang efisien.
Perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi minuman tidaklah singkat. Sebab, pohon robusta membutuhkan tiga tahun untuk tumbuh sampai memasuki masa panen pertama.
Pohon kopi yang sudah produktif itu hanya dipanen sekali setahun, tepatnya bulan Juni-Agustus.
Ia menerapkan teknik penyambungan batang, lalu mengembangkan pembibitan varietas robusta unggul seperti Tugu Ijo dan Borbor Brasil yang pertumbuhannya cukup baik.
Kondisi lahan kopi sempat rusak karena penggunaan pupuk kimia berlebihan. Akibatnya terjadi penurunan pH tanah hingga mencapai 3,5.
Kelompok binaan Titi lalu memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk organik. Upaya ini mampu menaikkan pH tanah menjadi 4 dan terakhir mencapai 5.
Berdaya untuk mendunia
Geliat produksi kopi robusta di Desa Cibeureum tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran perempuan yang sejak lama diberdayakan.
Akhir 2018, Titi menggagas KWT Srikandi. Awalnya fokus ke sayur pekarangan, tapi pandemi COVID-19 membuat usaha itu mandek. Ia kemudian mengajak ibu-ibu desa untuk menguatkan sektor kopi.
Puluhan wanita desa yang tergabung dalam KWT Srikandi saling bahu-membahu dengan kelompok tani setempat untuk memproduksi robusta berkualitas. Bahkan mereka menanam pohon kopi di pekarangan rumah.
Total lahan garapan kopi yang dikelola mereka sekitar 11,5 hektare dengan produktivitas rata-rata 21 ton. Kemudian ada perluasan 10 hektare, sebagian telah ditanami biji robusta.
Proses pengolahan kopi di Cibeureum memiliki ciri khas karena menggunakan metode natural. Buah kopi dipetik saat matang, lalu dijemur sekitar satu bulan sebelum digiling menjadi green bean.
Untuk mempercepat produksi, kelompok itu mendapat sokongan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan, berupa Solar Dryer Dome yang dapat memangkas proses pengeringan kopi menjadi 10 hari.
Ada pula keunikan yang diterapkan KWT Srikandi dalam proses pasca-panen. Setelah dijemur biji kopi disekap atau disimpan dalam wadah tertutup selama empat hingga tujuh hari.
Proses ini menciptakan fermentasi alami dan memberikan rasa asam ringan pada kopi, berbeda dari robusta yang umumnya cenderung pahit atau bold.
Kelompoknya tak berhenti bereksperimen. Tahun lalu, mereka mencoba metode wine processing untuk robusta, walaupun gagal pada praktik pertama.
Pada tahun ini, mereka berhasil. Rasa dan aromanya mulai terbentuk, bahkan cukup mirip seperti arabika.
Kegiatan KWT Srikandi setiap tahun meliputi penyortiran hingga pengemasan kopi. Terdapat enam orang yang menjadi karyawan tetap di unit usaha Sekarwangi. Jika volume pesanan tinggi, produksi dapat dilakukan hingga dua kali dalam sebulan.
Di Kuningan, metode penyangraian kopi dengan kayu bakar dan kuali tanah liat sudah jarang digunakan. Namun, kelompoknya tetap mempertahankan cara usang tersebut.
Tak semua orang mampu menyangrai manual. Salah sedikit, biji bisa gosong di luar tapi mentah di dalam. Itulah sebabnya metode lama kian langka, namun justru menjadikan kopi Cibeureum sebagai primadona.
Tradisi ini terus dirawat oleh Titi, karena diwariskan dari mendiang ibunya, yang sejak dulu menyangrai kopi secara manual.
Produk dari KWT Srikandi yakni kopi bubuk, green bean, kopi susu, hingga kopi saset sangat laris di toko oleh-oleh dan kalangan reseller.
Permintaan pasar terus berdatangan. Sebuah swalayan besar pernah meminta pasokan 10 ton per bulan, namun kelompoknya tak sanggup memenuhinya karena keterbatasan modal.
Kendati begitu, omzet tetap mengalir. Musim panen bisa menghasilkan cuan hingga Rp650 juta, meski marginnya tipis.
Di luar panen, pendapatan rutin Rp5 juta-Rp10 juta per bulan sudah cukup membuat roda ekonomi Titi dan petani berputar.
Kopi dari tanah Cibeureum pun telah menembus pasar internasional. KWT Srikandi pernah mengirim green bean ke Prancis, Belgia, Italia, Australia, Turki, Belanda, dan Malaysia.
Meski ongkos kirim mahal yakni sekitar Rp1 juta untuk 5-10 kg, respons dari konsumen luar negeri sangat positif. Artinya kopi Cibeureum diakui memenuhi standar kualitas global.
Titi tahu perjalanan ini belum selesai. Harga bisa naik turun, musim bisa berganti, tetapi semangat perempuan Desa Cibeureum tak mudah tumbang untuk berdikari lewat secangkir kopi.
Pesat
Hasil panen kopi di Kuningan terus menunjukkan perkembangan positif. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) setempat mencatat, total produksi komoditas ini selama Januari-September 2025 mencapai 1.217 ton.
Dari total produksi tersebut, sebanyak 63,61 ton berasal dari jenis arabika, sedangkan 1.154,38 ton lainnya merupakan robusta.
Jumlah tersebut melonjak dari hasil panen pada 2024 sebanyak 775,8 ton, dengan rincian 724,04 ton robusta dan 51,76 ton arabika.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah mengemukakan angka itu mencerminkan hasil kerja keras para petani, terutama di lereng Gunung Ciremai yang menjadi pusat penghasil kopi utama daerah tersebut.
Potensi lahan kopi di Kuningan masih sangat luas, dengan permintaan yang terus meningkat dari berbagai daerah.
Wilayah sekitar Gunung Ciremai menjadi kawasan ideal untuk pengembangan kopi, karena memiliki tanah vulkanik yang subur serta iklim sejuk.
Pemerintah daerah berupaya memperkuat daya saing petani kopi dengan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan teknis agar mutu serta produktivitas semakin meningkat.
Pada intinya, biji kopi hasil budidaya para petani di lereng Gunung Ciremai, termasuk KWT Srikandi, sudah dicap sebagai komoditas unggulan, yang siap bersaing di pasar nasional maupun global.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Lakon Srikandi penyuling asa kopi robusta di lereng Gunung Ciremai
Editor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025