Antarajabar.com - Tim Nasional (Timnas) Indonesia akan kembali berlaga dalam ajang sepakbola jalanan Homeless World Cup (HWC) yang akan berlangsung di Oslo, Norwegia pada 29 Agustus hingga 5 September 2017.
           
HWC ini diselenggarakan untuk mewadahi orang-orang yang memiliki permasalahan sosial seperti ketunaswismaan, penggunaan Napza, HIV/Aids, kemiskinan, serta termajinalkan dari lingkungan sosial.
           
Direktur utama Rumah Cemara sebagai National Organizer Timnas Indonesia untuk HWC, Aditya Taslim, mengatakan keikutsertaan Rumah Cemara dalam even tahunan ini untuk menyuarakan nilai-nilai  Indonesia tanpa stigma di masyarakat.
          
"Bagi kami sepakbola adalah sebuah alat yang bisa digunakan untuk mencapai mimpi kami. Saya harap ini hanya sebagian kecil dari semua yang bisa dilakukan," ujar Aditya di Bandung, Selasa.
          
Menurutnya, Rumah Cemara telah ikut serta dalam kejuaraan dunia sejak tahun 2011. Perjuangan untuk bisa berangkat pun bukan tanpa halangan, terutama dalam sisi pendanaan. Bahkan saat pertama kalinya mereka mengikuti kejuaraan, terpaksa harus meminta donasi melalui media sosial.
           
"Tapi kini kita bisa berangkat atas dukungan dari Kemenpora, Pertamina, Bank BJB, serta pihak terkait lainnya. Kami sangat bersyukur," kata dia.
          
Ia berharap, dengan diwadahinya orang-orang yang termajinalkan ini membuat hidupnya berubah dan menginspirasi masyarakat untuk tidak berurusan dengan dunia gelap. Di sisi lain, masyarakat juga sadar untuk tidak memandang negatif para mantan pengguna Napza, serta HIV/Aids.
           
"Kami ingin Indonesia tanpa stigma. Ketika di lapangan ga ada yang peduli dia pengidap Napza, ga punya pekerjaan. Jadi kami ingin apa yang terjadi di lapangan berlaku juga saat di masyarakat," kata dia.
          
Di tempat yang sama, manager Timnas Indonesia untuk HWC Yana Suryana mengatakan untuk keikutsertaannya kali ini Rumah Cemara berhasil mengumpulkan delapan orang melalui hasil seleksi di Surabaya pada 30 April - 3 Mei 2017.
           
Dari kedelapan orang tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mantan pengguna Napza, mantan narapidana, dan kaum miskin kota.
          
"Usai terjaring, delapan orang ini harus melewati proses karantina 45 hari di Rumah Cemara dengan program yang kami minta," kata dia.
           
Ia berharap, Timnas dapat berbicara banyak dalam kejuaraan tersebut, dan membuktikan pada masyarakat Indonesia bahwa kaum termajinalkan mampu meraih prestasi dan menjadi kebanggaan Bangsa.
    

Pewarta: Asep Firmansyah

Editor : Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2017