Tahun 2012 menjadi titik penting ketika ia mendirikan Turning Point USA, organisasi yang bergerak untuk mendorong agenda konservatif di kampus-kampus Amerika. Kirk kemudian menjabat sebagai direktur eksekutif TPUSA, CEO Turning Point Action (TPAction), sekaligus menjadi anggota Council for National Policy (CNP).
Dengan gaya bicara lugas dan keberaniannya dalam memperjuangkan isu-isu ideologi, Kirk menjelma menjadi role model bagi sebagian organisasi mahasiswa konservatif di AS.
Kedekatan dengan Donald Trump
Nama Kirk semakin dikenal publik karena hubungannya yang erat dengan Donald Trump. Kedekatan itu bermula pada tahun 2016, saat ia menjadi asisten pribadi Donald Trump Jr., putra sulung Trump. Dari situ, hubungan Kirk dengan keluarga Trump semakin intens.
Kirk bahkan disebut berperan besar dalam mendukung kemenangan Trump, terutama lewat basis massa yang digerakkan TPUSA di negara bagian Arizona. Selama masa kepresidenan Trump, ia kerap terlihat di Gedung Putih dan dikenal sebagai salah satu sosok yang paling vokal membela agenda politik sang presiden.
Gaya retorika-nya yang tajam dan sikap beraninya menentang kebijakan liberal membuat Kirk mendapat sorotan luas. Tak heran, saat kabar kematiannya muncul, Trump sendiri yang langsung menyampaikan duka mendalam melalui pernyataan resmi.
Kasus penembakan Charlie Kirk
Tragedi penembakan menimpa Kirk ketika ia tengah menyampaikan pidato bertema “The American Comeback” di hadapan mahasiswa Utah Valley University. Insiden itu terjadi sekitar 20 menit setelah pidato dimulai, dengan peluru mengenai bagian lehernya.
Saksi mata menyebut pelaku menembak dari jarak lebih dari 100 meter. Hingga kini, penyelidikan masih berjalan, sementara tersangka utama masih buron. FBI turut turun tangan dalam kasus ini dan meminta bantuan informasi dari masyarakat.
“Penyelidikan terus berlanjut, dan kami mengimbau masyarakat yang memiliki informasi untuk segera melapor,” ungkap Kash Patel, Direktur FBI.
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025