Oleh Budi Setiawanto
Sumbawa, 26/8 (ANTARA) - Safari Ramadhan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat di Sumbawa, Kamis, melintasi batas ruang dan waktu.

Jumhur tak hanya bertemu secara fisik dengan para TKI, calon TKI, TKI purna, dan keluarga TKI yang dikunjungi ke daerah-daerah di NTB tetapi juga berdialog langsung dengan TKI yang ada di Arab Saudi dan
"Tempat ini menginspirasi untuk dilakukan di daerah-daerah lain," kata Jumhur saat mengunjung Rumah Internet untuk TKI (Mahnetik) di Desa Karang Dima Kecamatan Labuhan Badas Kabupaten Sumbawa.

Di tempat yang berada di pesisir pantai Tanjung Pengamas itu Jumhur berdialog tatap muka via internet dengan Lukman yang sedang bekerja di Arab Saudi dan seorang TKI wanita yang berada di Hong Kong. Kedua TKI yang dikontak Jumhur melalui kecanggihan teknologi informasi itu berasal dari Sumbawa.

Kedua TKI yang berdialog langsung dengan Jumhur via internet itu mengaku merasa betah bekerja di luar negeri. Wajah mereka tampak ceria di layar komputer yang menghubungkan Jumhur dengan mereka.

"Kamu lihat wajah saya, lebih ganteng mana dengan Dede Yusuf?," kata Jumhur bercanda.

"Lebih ganteng bapak," kata TKI wanita dari Hong Kong yang berjarak ribuan kilometer dari Sumbawa.

Mahnetik adalah pusat sumber daya yang dilengkapi dengan teknologi internet untuk membantu menjembatani kebuntuan dan ketersendatan informasi bagi calon TKI, TKI, dan atau keluarga TKI termasuk sebagai media komunikasi dan silaturahmi bagi pemerhati TKI, instansi terkait dan masyarakat.

Selain berfungsi sebagai sarana berkomunikasi secara "video call" atau "tele conference" di negara yang berbeda, Mahnetik bisa menjadi pusat informasi dan usaha mengelola basis data buruh migran sebagai alat pemantauan TKI yang sedang bekerja di luar negeri dan mantan TKI yang telah kembali ke tanah air.

Mahnetik Sumbawa berdiri atas kerja sama pemerintah daerah Sumbawa, ANTARA (Australia-Nusa Tenggara Assistance for Regional Autonomy), Yayasan Tifa, dan Yayasan Koslata.

Pelayanan Mahnetik Sumbawa berangkat dari keprihatinan atas minimnya akses informasi dan penguasaan teknologi buruh migran di Sumbawa yang kemudian menjadi indikasi munculnya banyak persoalan seputar buruh migran.

Selain di Sumbawa, Mahnetik ada pula di sejumlah daerah seperti Lombok Barat, Lombok Timur, Kupang, Flores Timur, Cianjur, Sukabumi, dan Kulonprogo.

Kunjungan Jumhur ke Sumbawa adalah dalam rangkaian safari Ramadhan III BNP2TKI ke Sumsel, Lampung, Banten, dan NTB pada 19-29 Agustus 2010.

Dalam kunjungan itu, Jumhur juga mengumumkan bahwa Badan BNP2TKI siap meluncurkan pusat pengaduan TKI, yang akan melayani selama 24 jam sehari pada awal 2011.

"Call center ini akan mempercepat penanganan dan penyelesaian masalah TKI," kata Jumhur saat berdialog dengan warga di perkampungan TKI Desa Leseng, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa.

Masyarakat atau TKI, calon TKI, TKI purna, atau keluarga TKI dapat memanfaatkan pusat pengaduan itu secara gratis melalui telepon ke nomor tertentu yang dilayani oleh petugas.

"Kalau nomor telepon darurat 911 maka 'call center' TKI ini mungkin 199. Silakan masyarakat menyampaikan pengaduan apa saja terkait TKI," katanya.

Masyarakat, katanya, tidak hanya bisa menyampaikan pengaduan tetapi juga bisa menanyakan tindak lanjut penanganan dan penyelesaian atas pengaduan tersebut.

Dlam kunjungan tersebut, Jumhur juga mengingatkan pemerintah pusat dan daerah agar jangan kalah dengan calo TKI dalam mengurus penempatan TKI.

"Pemerintah terutama di daerah harus lebih dekat dengan rakyatnya terutama dalam memberikan sosialiasi dan pemahaman bagaimana menjadi TKI yang sesuai prosedur dan terjamin perlindungannya," kata Jumhur di Sumbawa Besar dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah Kabupaten Sumbawa dan TKI purna, keluarga TKI, serta asosiasi pelaksana penempatan TKI swasta.

***3***

Pewarta:

Editor : Irawan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2010