Industri petrokimia nasional PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) meresmikan pabrik baru senilai 380 juta dolar AS atau sekitar Rp5,7 triliun yang memproduksi polyethylene (PE) di Cilegon, yang ditandai dengan peresmian oleh Presiden Joko Widodo dan disaksikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

“PT Chandra Asri adalah pionir petrokimia di tanah air. Kita harapkan investasi dibidang ini harus kita dukung, sehingga impor bisa dihentikan,” kata Presiden Joko Widodo saat meresmikan pabrik tersebut di Cilegon, Banten, Jumat.

Dengan beroperasinya pabrik tersebut, maka kapasitas produksi PE bertambah 400 ribu ton per tahun, menjadikan total kapasitas produksi sebesar 736 ton per tahun.

Presiden memaparkan, neraca perdagangan ekspor dan impor untuk seluruh bahan kimia mengalami defisit sebesar Rp193 triliun, di mana nilai ekspornya mencapai Rp124 triliun, sedangkan impor Rp317 triliun.

Sedangkan, kebutuhan PE di dalam negeri mencapai 2,3 juta ton per tahun dan produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 280 ribu ton PE per tahun. Sehingga, 1,52 juta ton sisanya masih harus diimpor.

“Ini angka yang sangat besar sekali. Makanya kita berikan tax holiday, tax allowance itu karena ini defisitnya masih Rp193 triliun. Untuk apa? Kita bisa membuat kenapa kok harus impor. Satu per satu akan saya lebih detailkan untuk diselesaikan,” ungkap Jokowi.

Untuk itu, Presiden mengapresiasi Chandra Asri dalam mengembangkan bisnisnya, yang dinilai sebagai langkah konkret dalam mengatasi neraca perdagangan Indonesia.

“Oleh sebab itu, pembangunan pabrik baru ini merupakan langkah konkret. Seperti ini yang dibutuhkan negara kita. Bukan wacana,” pungkas Jokowi.

Adapun pada peresmian pabrik tersebut, Presiden didampingi Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri BUMN Erick Thohir.

Baca juga: Perusahaan Taiwan - Abu Dhabi siap investasi bangun proyek petrokimia di Indramayu

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019