Penyanyi solo wanita Yura Yunita merasa sangat emosional saat tampil untuk bernyanyi di hadapan para penonton yang merupakan tunarungu.

Hal yang membuatnya sangat emosional adalah ketika menerima apresiasi dari para penonton secara meriah melalui ekspresi dan bahasa isyarat di tengah kesunyian usai ia bernyanyi.

"Ketika aku sudah selesai tampil, semua berdiri, beberapa nangis dan memberikan aku tepuk tangan lewat bahasa isyarat dengan ekspresi mereka yang wah banget, enggak bisa aku jelasin pakai kata-kata," ujar Yura di Jakarta, Senin.

Saat itu adalah kali pertama Yura menampilkan lagu-lagunya bersama praktisi tunarungu Galuh Sukmara dengan menggunakan bahasa isyarat di hadapan sekira 50 penonton tunarungu.

Apresiasi yang berbeda itu menggugah emosi penyanyi tembang "Merakit" itu dan membuatnya ikut menangis di tengah "festival sunyi" itu.

Dari pengalaman itu, Yura akhirnya menyadari bahwa musik memiliki dampak besar yang bisa mengirimkan pesan dan emosi bagi banyak orang, tak terkecuali penyandang disabilitas.

"Aku sama sekali enggak nyangka kalau dampaknya akan sebesar itu. Dan dari mereka aku bisa tahu ceirta lain, dan aku juga sadar bahwa musik bisa menggerakkan kita ke hal-hal baik dan positif," kata solois berusia 28 tahun itu.

Sepak terjang Yura untuk melibatkan teman-teman disabilitas sudah ia tunjukkan melalui beberapa karyanya. Mulai dari video musik "Merakit" dengan bahasa isyarat, hingga hadirnya kawan-kawan tunanetra untuk turut tampil di Java Jazz dan konser tunggalnya.

"Kita membuka ruang untuk perform hingga menjadikan musik sebagai mata pencaharian mereka," kata Yura.

Baca juga: Yura Yunita "Merakit" bersama tuna netra dalam Konser Gemilang Anggun

Baca juga: Resensi - Album 'Merakit' Yura Yunita, sebuah cerita perjalanan karir

 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019