Pasokan air Jakarta tetap aman meskipun kemarau

Pasokan air Jakarta tetap aman meskipun kemarau

Dokumentasi pekerja mengisi air bersih yang bersumber dari PAM Jaya ke jerigen untuk dijual di kawasan Muara Angke, Jakarta, Senin (22/7/2019). Pemerintah Administrasi Kota Jakarta Utara menyatakan bahwa pasokan air bersih selama musim kemarau yang bersumber dari PAM Jaya dan Aetra masih pada tahap aman. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan penyedia air bersih PT PAM JAYA menyatakan pasokan air untuk wilayah Jakarta masih dalam level aman meskipun saat ini musim kemarau panjang.

“Hal ini karena level ketinggian air di Jatiluhur sebagai salah satu sumber air baku PAM Jaya yang terbesar sekitar 81 persen masih pada tingkatan aman,” kata Manajer Humas PT PAM Jaya Linda Nurhandayani ketika dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Sumber air baku yang lain, yaitu air curah dari Tangerang, juga masih relatif sesuai dengan target yang diharapkan PT PAM Jaya. Ia berkata, PT PAM Jaya juga memanfaatkan sumber air baku dari sungai-sungai yang ada di Jakarta yaitu Kali Krukut dan Cengkareng Drain.

Juga baca: Pemkot Jakarta Utara minta PAM Jaya tambah suplai air bersih

Juga baca: Walhi Jakarta minta pemerintah kaji krisis air bersih di Penjaringan

Juga baca: Dari hujan ke kemarau warga Muara Baru tetap beli air bersih

Walaupun begitu, beberapa wilayah Jakarta saat ini sudah mengalami kekeringan. Ia tidak menampik Jakarta Utara sudah mulai terdampak, sehingga pasokan air pun tidak lancar.

“Jakarta Utara memang cenderung lebih rentan mengalami kekurangan air, hal ini diakibatkan karena wilayah itu daerah terjauh dari jangkauan jaringan pipa PT PAM Jaya,” ujar dia.

Sebelumnya, BMKG menyebut tahun ini wilayah DKI Jakarta akan mengalami kemarau ekstrem. Agustus sampai September diperkirakan sebagai puncak musim kemarau, dengan kemungkinan lebih kering dari biasanya.

Berdasarkan data monitoring hari tanpa hujan (HTH) BMKG hingga 31 Juli 2019, dua wilayah di Jakarta masuk dalam kategori kekeringan ekstrem dengan HTH lebih dari 60 hari, yaitu Rorotan dan Sunter Rawabadak.

Sementara sebagian besar wilayah lainnya tergolong kategori sangat panjang, dengan rentang HTH 30 sampai 60 hari.
Pewarta : Suwanti
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019