Penderita katarak Indonesia 4 juta orang

Penderita katarak Indonesia 4 juta orang

Eksekutif Smec dan Erela berfoto bersama Bupati Kudus usai acara baksos operasi katarak. (ANTARA/Evalisa Siregar)

Medan (ANTARA) - Sumatera Eye Center (Smec) memperkirakan jumlah penderita katarak di Indonesia mencapai sekitar 4 juta dengan pertumbuhan penderita katarak 300 ribuan orang per tahun.

"Pertambahan penderita katarak di Indonesia menjadi masalah yang sangat besar. Apalagi pertumbuhan tersebut tidak sebanding dengan kemampuan dokter mata di dalam negeri melakukan operasi katarak," kata  CEO Smec Group, Dr Imsyah Satari SpM. di Medan, Senin.

Operasi katarak di Indonesia hanya sekitar 250 ribu setiap tahunnya sehingga terjadi backlog atau penumpukan jumlah pasien yang harus ditangani.

"Penumpukan jumlah pasien itu tidak terlepas dari dampak jumlah dokter mata yang masih terbatas serta teknologi operasi katarak yang masih konvensional," ujarnya.

Dunia melalui WHO telah mencanangkan bebas buta katarak tahun 2020.

"Melihat jumlah penderita.katarak yang cukup tinggi itu, Smec sebagai rumah sakit mata di Indonesia berupaya ikut membantu mengurangi penderita penyakit itu," ujar dia.

Dukungan Smec misalnya, dilakukan dalam Bakti Sosial Operasi Katarak di Kudus, Sabtu dan Minggu lalu dan dihadiri Bupati Kudus, HM Tamzil MT, Presdir PT Erela, Lily Handojo dan berbagai kalangan lainnya.

Menurut dia, Kudus dipilih sebagai lokasi bakti sosial pengobatan katarak dengan pertimbangan potensi daerah itu yang luar biasa dari segi ekonomi dan juga pertumbuhan penduduk.

Sementara potensi itu tidak dibarengi dengan jumlah rumah sakit dan klinik mata yang memadai di daerah itu.

"Masyarakat harus ke Semarang dulu untuk mendapatkan pelayanan mata berstandar internasional," katanya.

Dia menegaskan, kondisi itu pula yang membuat pihaknya berencana membangun klinik spesialis mata di Kota Kudus.

Bakti sosial operasi katarak gratis itu melayani 140 pasien dengan teknik operasi phacoemulsifikasi, yakni operasi katarak yang sangat modern, tanpa jahitan dan tidak perlu menunggu lama atau menunggu katarak menjadi matang sebelum dilakukan operasi.

Bakti sosial tersebut juga diharapkan dapat memberikan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mata.

Seorang pasien yang dioperasi, Sri Sulami (61) asal Demang, Pati mengaku gembira dan beruntung dapat kesempatan dioperasi dalam bakti sosial Smec dan Erela.

"Syukur bisa mendapat kesempatan dioperasi gratis dengan operasi berteknologi canggih," katanya.

Baca juga: 40 dokter spesialis mata pelatihan teknik operasi "phacoemulsifikasi"
Baca juga: Rubella sebabkan anak terlahir katarak dan tuli

 
Pewarta : Evalisa Siregar
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019