Rekonstruksi Arja Klasik Peliatan hadirkan kejayaan era 1940-an

Rekonstruksi Arja Klasik Peliatan hadirkan kejayaan era 1940-an

Pementasan Arja Klasik Peliatan Ubud dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu (Antaranews Bali/istimewa/2019)

Gianyar (ANTARA) - Kesenian hasil rekonstruksi Arja Klasik khas Peliatan, Ubud, Kabupaten Gianyar yang pernah mencapai kejayaan pada era 1940-an akan tampil dalam Pesta Kesenian Bali ke-41 pada Minggu (23/6) malam di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar.

"Selain tari Legong gaya Peliatan, juga terdapat kesenian Arja Klasik, yang pada periode tahun 1940 hingga 1990-an digawangi oleh almarhum I Made Lebah, almarhum I Gusti Putu Oka dan almarhum I Gusti Putu Layar sebagai generasi pertama," kata Koodinator Sanggar Gamelan Suling Gita Semara I Wayan Sudiarsa alias Pacet, di Ubud, Gianyar, Sabtu.

Kemudian Arja Klasik Peliatan dilanjutkan oleh Cokorda Alit Hendrawan, I Dewa Nyoman Sura, almarhum I Gusti Ketut Karta dan kawan-kawan sebagai generasi kedua yang menjadi salah satu grup Arja yang digandrungi masyarakat Bali pada masanya.

Dalam Pesta Kesenian Bali tahun ini, Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, dipercaya sebagai duta Kabupaten Gianyar untuk membawakan kesenian hasil rekontruksi Arja Klasik Peliatan.

Menurut Pacet, aktivitas berkesenian masyarakat Peliatan bukan hanya sebatas lelaku saja, namun juga masuk ke ranah penciptaan seni dalam pergaulan kreator seni pertunjukan antardaerah di Bali bahkan luar Bali.

"Khusus kesenian Arja, seniman Peliatan menjalin mitra kreatif dengan seniman-seniman besar asal Singapadu, seperti almarhum Cokorda Oka Tublen, almarhum I Wayan Geria dan almarhum I Made Kredek," ucapnya.

Kejayaan Arja pada masanya, lanjut dia, menjadi memori yang tiada dua dalam perkembangan seni saat ini.

Arja merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang bercerita tentang kisah Panji, yang dalam alur ceritanya selalu terselip pesan-pesan kebijaksanaan, inti sari dari karya sastra dan lagu.

"Namun, dalam perkembangannya, kesenian Arja mengalami pasang surut sampai pada titik dimana generasinya tidak lagi menjadikan kesenian Arja sebagai bentuk kesenian yang populer. Oleh karena itu dalam pelestariannya terkendala kurang menariknya kesenian Arja untuk dipelajari lantaran susah dan pakem yang mengikat," ujarnya.

Pacet yang juga dosen Unhi Denpasar ini mengatakan sanggarnya merasa bertanggung jawab atas lestarinya kesenian Arja yang pada masanya menjadi sebuah kesenian cerminan karakter masyarakat Peliatan.

"Dengan proses yang panjang, Gamelan Suling Gita Semara belajar kesenian Arja mulai dari gending/tabuh yang akrab disebut Geguntangan kepada maestro-maestro tabuh Geguntangan diantaranya Cokorda Alit Hendrawan, Dewa Nyoman Sura, dan almarhum Gusti Ketut Karta," ucapnya.

Akhirnya, dalam perjalanan prosesnya sampailah pada sebuah kesempatan untuk dapat merekonstruksi Arja Klasik Peliatan dengan ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai Duta Arja Klasik dalam Pesta Kesenian Bali yang ke-41 tahun 2019.

"Kesempatan yang baik ini, kami jadikan sebagai tonggak awal dalam melanjutkan kesenian Arja Klasik Peliatan," ujarnya.

Dengan dasar ketulusan dan doa, Pacet berharap kesenian adiluhung karya leluhur dapat dilestarikan dan kembali digandrungi oleh masyarakat utamanya generasi muda.

Mengikuti jejak leluhur terdahulu bahwa adanya hubungan istimewa antara Peliatan dan Singapadu dalam merajut ide maupun konsep dan menyamakan pikiran serta rasa untuk terciptanya sebuah kesenian yang mengandung nilai serta makna, Gamelan Suling Gita Semara turut mengundang seniman Arja Singapadu yaitu Ni Nyoman Candri (putri dari alm I Made Kredek seniman Arja) dan I Ketut Kodi (putra dari alm I Wayan Tangguh seniman topeng dan sangging) untuk melatih para penari Arja Klasik dan sama-sama bersinergi dalam mewujudkan kesenian Arja Klasik yang lestari.

Dalam prosesnya, Prof I Wayan Dibia (putra dari alm I Wayan Geria seniman Arja) juga ikut mendampingi dan berbagi pengalaman estetik kepada para penari dan penabuh.

Sebagian besar para penari Arja berasal dari Desa Singapadu sedangkan penabuh Arja dari Desa Peliatan.

"Dengan demikian, diharapkan hubungan para kreator terdahulu dapat disambung kembali dan proses perjalanan rekonstruksi Arja Klasik mendapatkan restu dari para leluhur terdahulu," ujarnya.

Baca juga: Tunas Mekar asal Amerika meriahkan Pesta Kesenian Bali ke-41
Baca juga: Di Pesta Kesenian Bali, Putri Koster persembahkan puisi "Aku Papua"
Baca juga: Musik Tong-Tong ditampilkan Sumenep di Pesta Kesenian Bali 2019
Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019