Sikapi kondisi Bendungan Bili-bili, sistem peringatan dini disiagakan

Sikapi kondisi Bendungan Bili-bili, sistem peringatan dini disiagakan

Warga berusaha menyelamatkan sebuah rumah yang akan terbawa arus aliran sungai Jeneberang yang meluap di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (22/1/2019). Meluapnya sungai Jeneberang akibat curah hujan yang tinggi membuat sejumlah daerah di Kabupaten Gowa terendam banjir. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/nz. (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)

Makassar, 23/1 (ANTARA News) - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang,  Teuku Iskandar mengatakan, pihaknya menyiagakan sistem peringatan dini terhadap warga setempat menyikapi kondisi operasional Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Hal itu disampaikan melalui pesan yang disampaikan di Makassar, Rabu dini hari saat menginformasikan perkembangan Bendungan Bili-bili.

Dia mengatakan, peringatan dini ini disampaika karena di Bendungan Bili-bili, saat mulai pembukaan awal pintu pelimpah pada Selasa (22/1) yang dioperasikan pada pukul 14.00 WITA dengan kondisi tinggi muka air bendungan Bili-boli +99.45, namun bukaan masih dalam status bendungan elevasi muka air normal dan bergerak menuju status pemantauan.

Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengoperasian Bendungan Bili-bili, kata dia, apabila elevasi bendungan sudah mencapai elevasi +99.42, maka sudah harus dilakukan persiapan mengoperasikan sistem peringatan dini (early warning system/EWS) dengan pemberitahuan kepada masyarakat di bagian hilir bahwa pintu air pelimpah akan dibuka dan spesifikasi alat pemberitahuan tersebut jangkauannya mencapai 4 kilometer.

Karena itu, pihaknya terus melakukan pengamatan kenaikan air bendungan mulai pukul 07.00 WITA pada Selasa (22/1) yang posisi permukaan air Bendungan Bili-bili terus bergerak naik mencapai elevasi +99.58 dan dilakukan pengoperasian kembali EWS berupa penyampaian seperti yang dilakukan sebelumnya terhadap pengoperasian penambahan pembukaan pintu pelimpah Bendungan Bili-bili.

Sementara itu, sebelumnya diketahui bahwa dari data BPBD Sulsel terdapat enam orang korban meninggal akibat banjir yang terjadi di Kabupaten Gowa.

Keenam korban meninggal itu yakni, seorang bocah Akram Al Yusran (3), warga Pangkabinanga, Rizal Lisantrio (48) warga BTN Batara Mawang karena tersengat listrik, Sarifuddin Dg Baji, serta seorang bayi yang belum teridentifikasi. Kemudian dua korban longsor lainnya juga belum teridentifikasi.

Selain enam korban meninggal karena banjir, empat warga lainnya juga dinyatakan mengalami luka-luka serta 10 orang lainnya hilang atau belum ditemukan oleh pihak keluarganya masing-masing.

Sedang di Kabupaten Maros, pemukiman warga di lima kecamatan yakni Kecamatan Bantmurung, Simbang, Cenrana, Maros Baru dan Kecamatan Lau juga tergenang air setinggi lutut hingga dada orang dewasa. Sebagian dari warga tersebut mengungsi ke masjid terdekat dan sebagian lagi masih bertahan di rumah panggung mereka.

Baca juga: Air bendung naik, warga Gowa-Sulsel diingatkan waspada banjir-longsor

Baca juga: Banjir di Gowa-Sulsel telan enam korban jiwa
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019