225.000 RT miliki anggota gangguan jiwa berat

225.000 RT miliki anggota gangguan jiwa berat

Seorang penderita gangguan jiwa berkeliaran di Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (10/4/2017). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Dinas Kesehatan Aceh tahun 2012, Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) tercatat 6.892 kasus, meningkat ditahun 2017 sebanyak 22.033 ODMK usia produktif di 23 kabupaten/kota di Aceh yang manyoritas ODMK akibat konsumsi Napza atau narkoba. (ANTARA FOTO/Rahmad)

Jakarta (ANTARA News) - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Anung Sugihantono mengatakan sekitar 225 ribu rumah tangga di Indonesia memiliki anggota keluarga yang berkategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat.

"Sekitar 15 juta rumah tangga yang sudah dikunjungi oleh tenaga kesehatan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), ada persoalan ODGJ berat di rumah tangga, angkanya sekitar 15 persen. Jadi terbayang ada sekitar 225 ribu rumah tangga yang di dalamnya ada ODGJ," kata Anung di dalam konferensi pers Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) di kantor Kementerian Kesehatan, Selasa.

Kendati demikian, Anung mengatakan angka tersebut belum bisa mencerminkan gambaran secara keseluruhan persolan kesehatan jiwa di Indonesia.

Melalui PIS-PK, tenaga kesehatan dari Puskesmas dikerahkan mengunjungi rumah-rumah warga di Indonesia untuk mengetahui tingkat kesehatan suatu keluarga dengan berbagai macam indikator. Program tersebut mengidentifikasi sejumlah penyakit, termasuk di dalamnya penyakit kesehatan jiwa.

Anung mengatakan secara epidimologis setiap ada satu  orang dengan gangguan jiwa pada umumnya terdapat lima sampai 10 Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). 

"Misal dalam rumah tangga saya ada satu, itu di lingkungan sekitar saya ada lima sampai 10 orang dengan masalah kesehatan jiwa," kata Anung.

ODMK bisa berupa stress, tidak punya relasi sosial dengan yang lain, depresi, atau masalah lain yang memiliki risiko menjadi gangguan jiwa. Sementara ODGJ ialah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran dan kejiwaannya sehingga berpengaruh pada perilaku.

Kemenkes melakukan berbagai upaya promotif dan preventif yang tujuannya untuk mengurangi ODMK dan mencegahnya menjadi ODGJ.

"Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini dimaksudkan juga untuk menumbuhkan perhatian sekaligus memberikan atensi, bahwa kesehatan jiwa ini bukan persoalan individu, tapi persoalan komunitas yang harus kita pecahkan bersama-sama," kata Anung. *

Baca juga: Situbondo buat aplikasi pantau pasien gangguan jiwa

Baca juga: Ratusan orang dengan gangguan jiwa berunjuk rasa di Sukabumi


 
 
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018