Karantina Entikong musnahkan ribuan butir telur ilegal

Karantina Entikong musnahkan ribuan butir telur ilegal

Arsip: Seorang petugas memperlihatkan ribuan telur penyu yang diamankan di Stasiun Pengawasan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP), Sungai Rengas,Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Minggu. (ANTARA/Jessica Wuysang)

Pontianak (ANTARA News) - Stasiun Karantina Pertanian Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, memusnahkan ribuan butir telur ayam, daging sapi dan unggas beku ilegal asal Malaysia di Entikong, Selasa.

"Seluruh pemasukan unggas dan produk unggas dari negara Malaysia, sesuai instruksi Kepala Badan Karantina Pertanian harus dilakukan penolakan dan pemusnahan karena di Sabah, Sarawak sedang wabah flu burung. Ini hasil tegahan dari Agustus, dikumpulkan dan dimusnahkan hari ini," ungkap Kepala Stasiun Karantina Pertanian Entikong, Yongki Wahyu Setiawan usai pemusnahan.

Ia menjelaskan, pemusnahan ini merupakan wujud koordinasi yang terjalin baik antara Stasiun Karantina Pertanian dengan instansi CIQS di PLBN Entikong serta aparat TNI dan Polri diperbatasan.

Dikatakan dia, flu burung yang mewabah di Malaysia sangat mengancam Kalimantan Barat.

Kalbar diketahui saat ini dinyatakan masih bebas flu burung, sehingga perlu melakukan antisipasi dan pencegahan masuknya penyakit yang disebabkan virus tersebut.

Ditanya mengenai kemungkinan flu burung masuk lewat PLBN Entikong, Yongki menegaskan pengawasan dan antisipasi disini sangat ketat sehingga kemungkinan masuknya flu burung mendekati "zero".

Namun, ia menambahkan, yang menjadi kekhawatiran adalah pemasukan unggas maupun produk unggas yang terinfeksi flu burung lewat jalur tikus yang tidak terpantau petugas karantina.

"Terkait hal itu kami tetap berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mendukung kami dan menjaga Kalimantan Barat serta Indonesia dari flu burung. Karantina Pertanian di Sarawak selalu koordinasi juga ke kami terkait kondisi disana, daerah mana aja yang aman, tapi sebagai daerah terancam kita yang harus lebih ketat," tukasnya.
Pewarta : Teguh Imam Wibowo
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018