Kapolri: soliditas TNI-Polri cermin kekuatan NKRI

Kapolri: soliditas TNI-Polri cermin kekuatan NKRI

Arsip Foto. Menkopolhukam Wiranto (kedua kiri) didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjono (kiri), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (kedua kanan) dan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian (kanan) berjabat tangan bersama usai menyampaikan keterangan pers terkait penyelenggaraan Pilkada serentak di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (27/6/2018). (ANTARA FOTO/ Reno Esnir)

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan soliditas TNI dan Polri merupakan salah satu cerminan kekuatan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Soliditas TNI dan Polri merupakan hal yang mutlak karena kesatuan dua lembaga tersebut menjadi salah satu cerminan kekuatan dan kedaulatan NKRI," katanya dalam acara pembekalan bagi 724 Calon Perwira Remaja (Capaja) Akademi TNI-Polri di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu.

Indonesia, Tito mengatakan, akan semakin kuat kalau memiliki aparat keamanan yang solid dan harmonis.

"Namun, bila TNI dan Polri terpecah belah maka Indonesia pun berpotensi hancur. Hubungan TNI-Polri bukan hanya di mulut saja, dan pemanis, tapi betul-betul dibutuhkan negara ini," katanya.

"Bangsa kuat jika TNI Polri-nya kuat," ia menambahkan.

Tito mengatakan tantangan TNI dan Polri dalam menjaga kedaulatan NKRI ke depan semakin berat. Ancaman terhadap negara pun makin beragam, dan tidak hanya berupa ancaman fisik dari dalam maupun luar.

"Ancaman serangan siber bisa muncul, sebenarnya bisa mengancam kedaulatan negara tanpa intervensi fisik," tambah Tito.

Ia lantas menekankan kembali pentingnya soliditas TNI-Polri dalam menjaga keutuhan NKRI.
    
"Kita merasa bersyukur bangsa Indonesia di usia 72 tahun, bahkan memasuki usia 73 tahun, tetap utuh sebagai bangsa NKRI. Ini prestasi besar dan karunia dari Tuhan," katanya.

Kepala Polri juga mengingatkan para capaja TNI-Polri untuk bersikap kritis.

"Sebagai sarjana, kita harus bertanya, kritis. Apa Indonesia masih bisa pecah? Kita lihat dalam akademik untuk ambil kesimpulan, itu adalah metode komparatif. Bukan saya mengamini, tetapi ada potensi. Bung Karno pernah bilang, menghadapi musuh luar lebih mudah dibandingkan musuh dari dalam," tuturnya.

Ia mencontohkan Uni Soviet dan Yugoslavia bisa pecah karena masalah dalam negeri. Di Indonesia, potensi perpecahan juga bisa muncul di dalam negeri, antara lain karena masih adanya kesenjangan ekonomi.

"Potensi perpecahan bisa semakin membesar akibat kerukunan bangsa yang melemah," katanya.

Baca juga: Presiden Jokowi apresiasi soliditas TNI-Polri
 
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018