BMKG: satu titik panas terdeteksi di Aceh

BMKG: satu titik panas terdeteksi di Aceh

Dokumentasi Api membakar semak belukar ketika terjadi kebakaran lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Sabtu (5/5/2018). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang cukup panjang pada 2018 ini, sebab itu BMKG menghimbau perlunya kewaspadaan terhadap potensi peningkatan titik panas mulai Juni 2018. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Banda Aceh (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang menyebutkan, satelit mendeteksi satu titik panas berada di wilayah Provinsi Aceh.

"Ya. Sore ini, kembali terpantau satu titik panas di Aceh," ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Blang Bintang, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Rabu.

Ia mengatakan, pantauan sensor modis dengan menggunakan kedua satelit yakni Terra dan Aqua menyebut, titik panas tersebut terdapat di dataran tinggi wilayah Tengah di Aceh.

Tepatnya berada di daerah yang masih terisolir, karena melintasi wilayah perbukitan dan pengunungan dengan jarak tempuh melalui jalan darat yang cukup jauh, yaitu di Kabupaten Gayo Lues.

Titik panas ini terdeteksi pada titik kordinat di 97,42 Bujur Timur dan 3,89 Lintang Utara atau termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Blangkejeren.

"Tingkat kepercayaan atas kebakaran hutan dan lahan menunjukkan, bahwa patut diduga sebagai titik api dengan angka 84 persen. Kemungkinan besar baik hutan dan lahan yang terdeteksi satelit, telah terbakar," katanya.

Pihaknya tetap mengingatkan akan bahaya membakar hutan dan lahan terutama di lahan bergambut, karena wilayah di Aceh sedang memasuki musim kemarau.

"Memang mayoritas berbagai daerah di provinsi ini, dilanda cuaca buruk beberapa hari terakhir di pekan ini. Tetapi itu, bukan jaminan terbebas dari titik panas," tegas Zakaria.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya pernah mengatakan akan memperketat pengawasan di wilayah Aceh dan Kalimantan Selatan (Kalsel) demi mencegah terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

"Saya memang harus hati-hati, sekarang berarti menjaga Aceh dan Kalsel. Selama ini saya hanya berpikir menjaga Riau dan Sumsel (Sumatera Selatan)," kata Siti.

"Sumsel memang kami sering jaga, Kalbar (Kalimantan Barat) juga kami jaga. Tapi di awal-awal Aceh sama Sumsel saya luput. Saya akan perhatikan," ujar Menteri Siti lagi.
Pewarta : Muhammad Said
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018