Jakarta (ANTARA News) - Bank Dunia merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 5,3 persen.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chaves mengatakan, perkiraan tersebut seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan arus perdagangan yang menurun dari level tertingginya baru-baru ini.

"Kita memproyeksikan bahwa PDB Indonesia akan bertumbuh 5,2 persen pada 2018," ujar Rodrigo di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu.

Menurut Bank Dunia, meningkatnya proteksionisme perdagangan, terdapat risiko riil bahwa percepatan perdagangan global baru-baru ini dapat terhenti dan membebani ekspor Indonesia dan dengan demikian menghambat pertumbuhan.

Baca juga: Bappenas ingatkan proteksionisme perdagangan sebagai risiko global

Peningkatan lebih lanjut dalam langkah-langkah dan sentimen proteksionis tersebut, dapat mengakibatkan hambatan yang lebih besar dari sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, normalisasi lanjutan kebijakan moneter AS hingga saat ini telah berjalan secara tertib, masih ada risiko signifikan dari volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan dan pasar modal global.

Kenaikan yang cepat dalam imbal hasil AS telah memicu kesulitan keuangan di Argentina dan Turki. Volatilitas lanjutan seperti itu dapat mengakibatkan biaya pembiayaan meningkat lebih tajam bagi negara-negara berkembang.

Untuk konsumsi swasta di Indonesia, Bank Dunia memperkirakan sedikit meningkat. Sementara pertumbuhan investasi diproyeksikan tetap tinggi, mengingat tingginya harga komoditas yang terus berlanjut.

Namun, mengingat sifat investasi yang sarat impor, ekspor bersih akan terus membebani pertumbuhan ekonomi oleh karena pertumbuhan ekspor melambat sejalan dengan menurunnya perdagangan global.

Sejalan dengan proyeksi menurunnya harga komoditas menjelang paruh kedua tahun ini dan berlanjutnya peningkatan permintaan dalam negeri, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan melebar. Bank Dunia memprediksi defisit neraca transaksi berjalan akan mencapai 2 persen dari PDB. Sedangkan defisit anggaran diprediksi mencapai 2,1 persen.

Ekspor sendiri diperkirakan akan terus melemah karena pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global diperkirakan akan melambat. Sedangkan inflasi diperkirakan akan tetap rendah tahun ini. Bank Dunia memproyeksikan inflasi tahun ini 3,5 persen.

Namun, untuk 2019 inflasi akan meningkat karena biaya impor yang lebih tinggi terkait dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi dan mata uang yang lebih lemah.

Baca juga: BI: pertumbuhan ekonomi belum bisa sentuh 5,3 persen

Baca juga: Pemerintah sasar pertumbuhan ekonomi sampai 5,8 persen tahun depan

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2018