Hambatan jalankan prokes pada disabilitas tergantung ragamnya

Hambatan jalankan prokes pada disabilitas tergantung ragamnya

Tangkapan layar Staf Khusus Presiden di Bidang Sosial Angkie Yudistia dalam Dialog Khusus Inklusivitas Bagi Penyandang Disabilitas yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (8/12/2021). (ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti)

Jakarta (ANTARA) - Staf Khusus Presiden di Bidang Sosial Angkie Yudistia mengatakan hambatan dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang dilakukan oleh penyandang disabilitas tergantung pada ragam disabilitas itu sendiri.

“Hambatan dalam menerapkan prokes bergantung pada ragam disabilitas dari individunya,” kata Angkie dalam Dialog Khusus Inklusivitas Bagi Penyandang Disabilitas yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu.

Angkie menjelaskan dalam menerapkan protokol kesehatan seperti 5M yakni mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas, semua hal tersebut sudah menjadi bagian dari kebiasaan baru sehingga disabilitas cukup beradaptasi dengan baik dengan adaptasi baru yang berfokus pada pencegahan.

Namun, ada beberapa hambatan dalam menerapkan hal tersebut karena penyandang disabilitas memiliki permasalahan yang tak sama.

Seperti pada penyandang disabilitas sensorik atau tuna rungu, kata dia, masa pandemi COVID-19 yang menuntut semua orang memakai masker menyebabkan mereka kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain karena tak dapat melihat gerak gerik mulut atau wajah seseorang.

Menurut Angkie, hal yang sama juga terjadi pada penyandang disabilitas motorik atau tunadaksa. Hal itu disebabkan karena sulit bagi mereka untuk mencuci tangan bila akses memakai keran tidak mudah, seperti keran putar maupun keran injak.

Oleh sebab itu, solusi untuk para penyandang disabilitas dapat terus bisa menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar adalah dengan membawa handsanitizer dan menggunakan teknologi yang bisa membantu mereka berkomunikasi dengan orang lain.

Dalam kesempatan itu Angkie juga menegaskan, salah satu kunci penting dalam menumbuhkan kesadaran akan protokol kesehatan pada penyandang disabilitas adalah adanya dukungan dari keluarga dan kerabat.

Ia berharap, semua pihak yang mendukung tersebut dapat memberikan edukasi yang baik, mampu mencerna dan memilah informasi sekaligus menjelaskan secara persuasif pada teman-teman disabilitas guna menekankan pentingnya menjalankan protokol kesehatan khususnya pada masa pandemi COVID-19.

“Terlepas dari tantangan yang ada, saya ingin mengapresiasi teman-teman disabilitas di Indonesia yang telat taat protokol kesehatan sejak awal pandemi,” ujar dia.
Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2021