Kabar COVID-19 dunia, dari protes vaksin hingga obat COVID-19

Kabar COVID-19 dunia, dari protes vaksin hingga obat COVID-19

Massa berunjuk rasa menentang pembatasan COVID-19 dan kewajiban vaksin di Wellington, Selandia Baru, 9 November 2021. ANTARA/Reuters/as.

Jakarta (ANTARA) - Perkembangan pandemi COVID-19 di berbagai belahan dunia hari ini:

Ribuan warga Selandia Baru protes vaksin dan aturan COVID-19

Ribuan orang menggelar demonstrasi di Selandia Baru pada Selasa untuk memprotes pemerintah atas mandat vaksin COVID-19 dan penguncian wilayah.

Meski aksi berlangsung tertib, sebagian besar pendemo tidak memakai masker.

Mereka membawa poster dan spanduk berisi tulisan, seperti "Kebebasan" dan "Kiwi (julukan bagi penduduk Selandia Baru, -red.) bukanlah tikus percobaan".

Pendemo juga meneriakkan slogan yang menuntut pemerintah membatalkan aturan wajib vaksinasi dan mencabut pembatasan.

Data NSW: Orang yang tidak divaksin 16 kali berisiko meninggal akibat COVID-19

Orang-orang yang tidak divaksin 16 kali berpeluang dirawat secara intensif atau meninggal akibat COVID-19, kata otoritas kesehatan Australia dalam sebuah laporan.

Data dari departemen kesehatan negara bagian New South Wales menunjukkan hanya 11 persen dari 412 kasus kematian akibat COVID-19 selama empat bulan wabah varian Delta sampai awal Oktober adalah orang yang sudah divaksin. Rata-rata usia mereka 82 tahun.

Baca juga: Selandia Baru tambahkan baricitinib sebagai obat COVID-19

Laju infeksi virus corona di Jerman capai rekor

Laju infeksi virus corona di Jerman telah meningkat ke level tertinggi selama pandemi, data kesehatan publik menunjukkan pada Senin.

Pemimpin negara bagian Bavaria Markus Soeder sebelumnya mendesak tindakan yang lebih efektif, termasuk menawarkan lagi uji COVID-19 gratis dan mengaktifkan kembali pusat vaksinasi.

Soeder juga menyerukan negara-negara bagian dan pemerintah pusat untuk berkoordinasi dalam strategi.

Jerman sebelumnya mencabut kebijakan testing gratis untuk mendorong penduduknya menjalani vaksinasi.

Baca juga: Hadapi masa sulit COVID, Jerman setujui booster bagi semua

Israel bahas vaksin COVID-19 anak secara tertutup

Otoritas kesehatan Israel akan memutuskan dalam pertemuan tertutup apakah vaksin COVID-19 akan diberikan pada anak-anak.

Mereka khawatir para pembuat keputusan tidak bisa berbicara bebas akibat retorika anti vaksin yang agresif dari anggota masyarakat.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) sudah memberikan lampu hijau pada penggunaan vaksin COVID-19 buatan Pfizer/BioNTech bagi anak usia 5-11 tahun.

Kementerian kesehatan Israel pada Rabu akan menggelar pertemuan para pakar untuk mengambil keputusan.

Ancaman terhadap pejabat kemenkes meningkat, kata polisi, dan sedikitnya seorang petinggi kesehatan telah diberikan perlindungan keamanan pribadi.

Baca juga: Bahrain terbitkan izin vaksin COVID-19 Pfizer untuk anak 5-11 tahun

Obat COVID-19 akan tersedia, tapi bukan pengganti vaksin

Pil-pil antivirus buatan Merck & Co dan Pfizer Inc/BioNTech SE telah menunjukkan kemanjuran yang signifikan untuk mengobati COVID-19 jika diberikan di awal infeksi.

Namun, para dokter mengingatkan mereka yang enggan divaksin untuk tidak keliru menafsirkannya sebagai pencegah infeksi seperti vaksin.

Alasan utama untuk tidak bergantung pada obat-obat yang baru itu, kata pakar, adalah bahwa obat antivirus --yang menghentikan virus bereplikasi dalam tubuh-- harus diberikan sejak dini karena COVID-19 memiliki beberapa fase.

Dr Peter Hotez, pakar vaksin di Baylor College of Medicine, mengatakan pemberian obat secara tepat waktu bisa jadi tantangan karena interval saat virus bertransisi dari fase replikasi ke fase peradangan tidak bisa dipastikan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Malaysia sepakati pembelian obat COVID molnupiravir

Baca juga: WHO akan uji tiga obat baru untuk pengobatan COVID
Pewarta : Anton Santoso
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2021