Masyarakat dengan defisiensi imunitas masuk prioritas penerima booster

Masyarakat dengan defisiensi imunitas masuk prioritas penerima booster

Botol kecil dengan label vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, dan Moderna terlihat dalam foto ilustrasi yang diambil Jumat (19/3/2021). (ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/hp/cfo/am)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan RI mengkategorikan masyarakat dengan defisiensi imunitas, seperti penderita HIV dan kanker dalam kelompok prioritas penerima vaksin booster COVID-19 yang direncanakan bergulir 2022.

"Sesuai dengan saran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), booster ini akan diberikan ke kalangan masyarakat yang berisiko tinggi dan yang sedang mengalami defisiensi imunitas," kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers yang diikuti dari YouTube Perekonomian Indonesia, Selasa siang.

Baca juga: ITAGI tetapkan kriteria vaksin "booster" untuk masyarakat umum

Budi mengatakan kelompok masyarakat yang berisiko tinggi adalah tenaga kesehatan dan lanjut usia (lansia) yang saat ini sudah berjalan. Sedangkan masyarakat yang masuk ke dalam kategori terganggu imunitasnya adalah masyarakat yang terkena HIV dan kanker.

Menurut Budi, wacana pemberian vaksin penguat atau booster kepada masyarakat umum di Tanah Air semakin menguat untuk bergulir pada 2022.

"Tahun depan rencananya memang kita akan memberikan booster," katanya.

Kemenkes RI sedang melakukan penelitian jenis vaksin yang ideal bagi booster bekerja sama dengan Anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization Indonesian dan sejumlah perguruan tinggi.

Baca juga: Kemenkes minta ITAGI teliti vaksin COVID-19 terbaik untuk booster

Baca juga: FDA: Moderna tak penuhi semua kriteria vaksin "booster"


Ia mengatakan tujuan penelitian itu guna melihat kombinasi mana yang paling baik untuk vaksin booster. "Antara Sinovac, Sinonovac, boosternya Sinovac atau Sinonovac, Sinovac dan AstraZeneca atau Sinovac, Sinovac dan Pfizer. Demikian juga dengan AstraZeneca, AstraZeneca dan AstraZeneca atau (vaksin booster) yang ketiga Sinovac dan Pfizer," katanya.

Budi mengatakan penelitian tersebut sedang berjalan dan diharapkan rampung di akhir 2021. "Harapannya penelitian bisa selesai, sehingga menjadi basis kita mengambil kebijakan untuk ke depannya," katanya.

Budi menambahkan Kemenkes RI juga mengamati perkembangan vaksin booster yang sedang berjalan di tujuh negara. "Ada tujuh negara yang juga sama-sama sedang menyuntikkan vaksin booster," katanya.

#ingatpesanibu
#sudahdivaksintetap3m
#vaksinmelindungikitasemua
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021