Keberhasilan cegah gelombang lanjutan pengaruhi kepercayaan G20

Keberhasilan cegah gelombang lanjutan pengaruhi kepercayaan G20

Tangkapan layar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan pers "Evaluasi PPKM" yang diikuti dari kanal YouTube Kemenko Marves di Jakarta, Senin (25/10/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan keberhasilan Indonesia mengantisipasi gelombang lanjutan COVID-19 sangat mempengaruhi kepercayaan pemimpin dunia yang diagendakan hadir pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2022 di Bali.

"Arahan Presiden Joko Widodo agar dipastikan jangan sampai di waktu Natal dan Tahun Baru terjadi lonjakan gelombang berikutnya karena banyak acara penting tahun depan, seperti G20 yang sangat bergantung pada kepercayaan pimpinan dunia," kata Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan pers "Evaluasi PPKM" yang diikuti dari kanal YouTube Kemenko Marves di Jakarta, Senin.

Untuk itu Kemenkes RI beserta otoritas terkait terus berupaya menangani potensi gelombang lanjutan wabah COVID-19 yang diprediksi muncul dari kegiatan masyarakat saat merayakan Natal dan Tahun Baru 2022.

Budi mengatakan gelombang lanjutan akan sangat mengganggu kehadiran para pemimpin dunia serta suksesnya cara G20 di Bali pada Oktober 2022.

"Sesuai arahan Menko Marves, bagaimana Indonesia bisa menangani kondisi di Natal dan Tahun Baru. Karena kalau ada lonjakan, sangat mengganggu kehadiran mereka dan suksesnya acara tersebut," ujarnya.

Baca juga: Satgas optimistis pertemuan G20 berjalan lancar

Baca juga: Negara peserta G-20 puji kinerja penanggulangan pandemi di Indonesia


Sejumlah program kerja yang diterapkan Kemenkes di antaranya mengintensifkan surveilans untuk memastikan semua kontak erat harus dilakukan testing.

"Karena di situlah risiko terbesar penyebaran. Selain kasus konfirmasi, seluruh kontak erat dilakukan testing. Jadi protokol 3T harus dijalankan dengan sebaik-baiknya," katanya.

Berikutnya adalah vaksinasi yang harus dipercepat, terutama untuk lansia yang tergolong berisiko tinggi untuk masuk rumah sakit atau wafat.

Hingga Senin pagi, sudah ada 182 juta dosis yang disuntikkan ke 113 juta rakyat Indonesia atau 54 persen dari target populasi sebanyak 208 juta. Sebanyak 68 juta jiwa sudah mendapatkan dosis komplit atau 32 persen dari target sasaran.

"Kami sudah melakukan simulasi dengan rate seperti ini yang sudah menembus suntikan harian 2,3 juta per hari lebih besar dari Amerika Serikat. Kita berharap di akhir tahun kita bisa mencapai angka suntikan antara 290 sampai 300 juta jiwa," katanya.

Budi menambahkan stok vaksin yang dimiliki Indonesia saat ini berjumlah 248 juta dosis, sebanyak 237 juta dosis di antaranya sudah didistribusikan. "182 juta sudah disuntikkan. Jadi kita masih ada stok di semua provinsi sebesar 55 juta dosis," katanya.

Baca juga: Menlu RI dorong G20 bangun multilateralisme untuk hadapi pandemi

Baca juga: Menkes-Menkeu G20 sepakat kerjasama pembiayaan kesehatan berkelanjutan
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021