Banser, pecalang, dan Nyepi

Banser, pecalang, dan Nyepi

Banser dan pecalang bersama menjaga lalu lintas dalam pengamanan Hari Raya Nyepi ANTARA/nu.or.id

Denpasar (ANTARA) - Sebuah foto yang merekam anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) dan Pecalang Bali di tengah hujan saat melakukan pengamanan lalu lintas ketika persembahyangan rangkaian Hari Raya Suci Nyepi oleh umat Hindu di Pulau Bali, menjadi viral di media sosial, Sabtu (13/3).

Para warganet memuji nilai keharmonisan yang ditunjukkan oleh masyarakat Bali, kendati berbeda agama itu. "Itu foto anggota banser dan pecalang saat kehujanan dalam pengamanan Nyepi di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, Bali pada Sabtu (13/3) pukul 16.30 Wita," kata Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng, Bali, Abdul Karim Abraham (merdeka.com, 15/3).

Saat Hari Raya Nyepi 2021 itu, 170 anggota Pemuda Ansor dan Banser di Buleleng, ikut membantu pecalang, menjaga keamanan di lima kecamatan di Buleleng, Bali. Mereka diturunkan di 17 titik ada di lima  kecamatan. Satu titik sekitar lima dan 10 orang anggota.

"Kita ingin sampaikan adalah pesan keharmonisan. Jadi kita melakukan itu saling membantu antar kemanusiaan dan tidak melihat (perbedaan) agama. Tapi, ini memang sudah kita pupuk sejak lama. Sebenarnya, kita menjaga warisan orang tua kita yang juga hubungannya sangat harmonis sebelumnya," ujar Abraham.

Fakta di Buleleng itu merupakan fakta rutin dari tahun ke tahun yang bukan hanya terjadi di Buleleng, tapi di seluruh kabupaten/kota di "Pulau Dewata" Bali.

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali, Amron Sudarmanto mengatakan, kerja sama ini sudah menjadi kegiatan rutin saat hari raya agama Hindu maupun Islam. Ia pun mengapresiasi semangat sahabat-sahabat Banser yang terlibat dalam pengamanan perayaan Nyepi ini. "Keterlibatan Banser ini sudah bisa membawa nama baik Islam yang ramah di mata agama lain," terangnya (nu.or.id).

Untuk di Bali sendiri, keharmonisan hubungan antara umat Islam dan Hindu sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. "Nah, kenapa di Bali tidak pernah terjadi konflik berlatar agama, karena kita sudah lama bersama, saling menghormati dan saling memahami, wajar jika sampai hari ini kita rukun," tambahnya.

Amron pun menegaskan bahwa suasana kondusif ini harus terus dipertahankan oleh generasi penerus, terlebih oleh GP Ansor dan Banser. "Banser memiliki tanggungjawab moril untuk ini," tegasnya.

Baca juga: Menag: Jadikan Nyepi sebagai momentum memuliakan alam

Baca juga: Banser Jateng siap dilibatkan pengamanan tempat ibadah


"Humanisme" Gus Dur

Keakraban Hindu-Islam di Bali yang dicontohkan Banser-Pecalang itu sudah lama terjalin berkat "rintisan" tokoh kemanusiaan, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang meninggal dunia pada 30 Desember 2009.

"Di Bali, Gus Dur tidak hanya dikenal oleh kalangan Muslim, karena Gus Dur justru lebih akrab bersama krama (masyarakat) Hindu," kata seorang pengurus NU Bali Gus Ainun Ni'am dalam Haul Gus Dur di Ashram Gandhi Puri Denpasar, 7 Januari 2020.

Dalam Haul Gus Dur pada awal tahun 2020 yang dipimpin oleh Ida Rsi Putra Manuaba dan telah diarsipkan dalam video youtube Channel "Aswaja Dewata" itu, Gus Ainun Ni'am menceritakan Gus Dur jika ke Bali lebih suka "main" ke Puri, Pura, Ashram dan tokoh-tokoh Hindu.

"Hal itu membingungkan Muslim di Bali, khususnya warga NU. Abah Yai (KH. Noor Hadi) sempat protes: Gus, kenapa kok tidak main ke kantor NU, tidak main ke masjid? Gus Dur malah mainnya ke Puri, Pura, Ashram dan beberapa tokoh Hindu," ungkapnya (aswajadewata.com).

Ternyata, Gus Dur main ke Puri dan beberapa tokoh Hindu itu bertujuan membangun ikatan persaudaraan sesama anak bangsa tanpa melihat suku, agama, ras/etnis, dan antargolongan/strata.

"Secara tidak langsung, beliau menitipkan kita semua. Gus Dur menitipkan umat Islam di Bali kepada para raja dan tokoh Hindu di Bali agar menjaga Muslim di Bali," katanya.

Akhirnya, keakraban Gus Dur dengan umat Hindu di Bali itu "berlanjut" setelah ia wafat. "Ketika teman-teman Ansor mengadakan kegiatan, krama Hindu selalu membantu untuk memasang bendera NU, karena ingat sama Gus Dur," katanya.

Bahkan, pusat agama Hindu, Ashram Gandhi Puri, di Kabupaten Klungkung, memiliki sebuah ruangan kecil yang diberi nama Gus Dur Bhavan. Ruangan itu menyimpan barang-barang milik Gus Dur yang tertinggal seperti dua buah baju, celana panjang hitam, peci, tongkat, foto, kursi yang biasa dipakai untuk duduk.

"Gus Dur meninggalkan banyak pesan yang layak diteladani oleh masyarakat seluruh dunia. Salah satunya adalah rasa toleransi dan pesan kemanusiaan. Pesan Gus Dur yang saya ingat adalah lakukanlah kebajikan. Niscaya, orang tak akan pernah bertanya latar belakang agama, suku dan ras kita," kata Ketua FKUB Bali, Ida Bagus Gede Wiyana (28/12/2013).

Ya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang giat menjalin "humanisme" seperti dipraktekkan Banser menjaga gereja, atau Banser-Pecalang mengamankan Nyepi. "Indonesia ada hingga sekarang karena keberagaman," kata Gus Dur, sang pengibar 'bendera' Islam Ramah, Islam Rahmat, Islam Nusantara, atau apapun istilah yang intinya menebarkan dakwah "Islam Rahmatan lil Alamin" sebagaimana tercantum dalam Quran Surat Al-Anbiya ayat 107.

Baca juga: Masyarakat Bali laksanakan Nyepi, suasana jadi hening

Baca juga: Para pecalang pantau tapa bratha penyepian di Bali

 
Pewarta : Edy M Yakub
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021