Unram dan Hepatika ciptakan alat rapid test antigen

Unram dan Hepatika ciptakan alat rapid test antigen

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), H Zulkieflimansyah (kedua kiri) didampingi Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora Prof Mulyanto (kanan), Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri (kiri) menunjukkan alat rapid test antigen yang dilabeli dengan nama "Enram" di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Kamis (25/2/2020). (ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (ANTARA) - Universitas Mataram bersama dengan Laboratorium Hepatika Bumi Gora, Nusa Tenggara Barat berhasil menciptakan alat rapid test antigen yang dilabeli dengan nama "Enram".

"Selama ini berbicara corona virus itu identik dengan alat-alat yang canggih dan berada di kota-kota besar. Namun, dengan proses penelitian dan riset Laboratorium Hepatika dan Unram mampu menghasilkan inovasi alat rapid test antigen," kata Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah, didampingi Rektor Unram Prof Lalu Husni, dan Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora, Prof Mulyanto, saat acara peluncuran rapid test antigen, di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB di Mataram, Kamis.

Menurut Gubernur, kolaborasi Laboratorium Hepatika dan Rumah Sakit Unram, mampu membuat alat yang memiliki akurasi yang tinggi untuk menguji COVID-19. Keberadaan alat penemuan baru ini dapat memudahkan tracing kepada penderita COVID-19, sehingga dapat mengurangi angka penyebaran Corona Virus di NTB. Selama ini di NTB terkendala dengan alat, namun dengan kehadiran alat produk lokal dalam daerah, diharapkan mampu mengatasi pandemi.

"Kalau sudah alatnya jelas, maka tracingnya cepat. Mudah-mudahan pandemi ini cepat teratasi," ujarnya.

Doktor Zul sapaan akrab Gubernur NTB meminta, agar alat rapid test antigen "Enram" ini dapat diproduksi lebih banyak lagi. Ia menargetkan akhir Maret 2021 dapat diproduksi sebanyak 50 ribu.

"Lebih cepat lebih baik, minimal akhir Maret 2021 dapat diproduksi 50 ribu alat," harap Gubernur NTB.
Baca juga: Laboratorium Hepatika NTB siap produksi masal alat rapid test COVID-19

Gubernur NTB mengaku, tidak pernah menyangka NTB mampu membuat alat rapid test antigen. Ini membuktikan bahwa industrialisasi tidak identik dengan pabrik-pabrik besar. Bahkan Gubernur yakin, bila diberi kesempatan dan sumber daya, NTB mampu membuat vaksin. Ia mengapresiasi usaha dan ikhtiar Profesor Mul sapaan Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora dan Rektor Unram Prof Lalu Husni.

"Atas nama pemerintah daerah, kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Hepatika dan Unram," katanya.

Rektor Unram Prof Lalu Husni, menjelaskan bahwa temuan ini merupakan bagian dari riset dan inovasi, yang menjadi kebijakan pemerintah, dalam mendorong perguruan tinggi (PT) untuk melakukan penelitian, penemuan dan inovasi, terutama di era pandemi Covid ini.

"Riset ini inovasi, memantik PT untuk menciptkan hasil karya yang mampu mengatasi persoalan dimasa Covid, sehingga kita mampu mandiri," kata Rektor Unram.

Ia mengapresiasi Tim Rumah Sakit Unram bersama Tim Laboratorium Hepatika Bumi Gora, yang telah terus berkreasi dan berinovasi membantu daerah bahkan bangsa dan negara.

"Selamat kepada tim yang telah bekerjasama dan kolaborasi," ucapnya.

Kepala Laboratorium Hepatika Bumi Gora Prof Mulyanto yang menginisiasi riset dan penelitian untuk menciptakan alat rapid test antigen menjelaskan, setelah membuat alat rapid test antibody bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada dan Padjajaran yang dinamai RIGHA, Hepatika ditantang oleh Gubernur NTB, untuk membuat inovasi menciptakan alat rapid test antigen bekerjasama dengan Unram.

Sehingga menurutnya, Hepatika terus berikhtiar melakukan penelitian dan riset. Dari usaha tersebut, menghasilkan produk rapid test antigen untuk COVID-19.
Baca juga: Menristek: Kapasitas produksi alat tes COVID-19 lokal masih terbatas

"Kami yang mempoduksi produk, kemudian hasilnya dievaluasi oleh Unram," kata Profesor Mul.

Produk karya NTB ini telah melalui proses seperti validasi dan uji lainnya. Untuk menguji akurasinya alat ini dibandingkan dengan sampel virus menggunakan PCR dan anti virus yang telah beredar atau komersil lainnya.

Hasilnya kata Profesor Mul, sangat memuaskan. Sensivitasnya dan spesifitasnya lebih baik dari salah satu alat tes cepat yang beredar dipasaran. Akurasi alat ini sensivitasnya sekitar 91 persen, dengan spesifitasnya sekitar 96 persen. Artinya, dapat mendeteksi paling tidak dari 100 pasien positif, sejumlah 91 orang yang dapat dideteksi dengan produk ini.

"Kalau tidak dapat dideteksi dengan alat ini, artinya jumlah virusnya sangat rendah dan tidak menular. Dibanding dengan produk lain ada yang sensivitasnya 80 persen. Produk ini juga merupakan hasil dari uji coba dengan 2 produk alat komersial sebagai pembanding. Namun lebih bagus kita," tegasnya.

Selain itu juga, alat ini tergolong murah dengan harga kurang lebih Rp100.000 dan dapat langsung mendapatkan hasil sekitar 15 menit.

"Pembuatan alat bahanya sama dan cepat, lebih mudah dibanding dengan membuat alat sebelumnya," katanya.

Senada dengan Profesor Mul, Tim Peneliti dari Rumah Sakit Unram, Muhammad Rizki, mejelaskan bahwa hasil uji validasi yang dilakukan oleh Unram dengan membandingkan sampel yang sama dengan produk komersial menunjukan bahwa hasil yang positif pada produk komersial juga positif pada produk Lab Hepatika. Sebaliknya, hasil negatif pada produk komersial tersebut, menujukan hasil negatif juga pada produk Hepatika.

Ia juga menjelaskan, bahwa sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut dibandingkan dengan tes PCR, lagi-lagi hasilnya tetap konsisten. Jadi dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas produk Hepatika tidak kalah dengan produk komersil lainnya.

"Artinya, hasil deteksi produk komersial, dapat dideteksi oleh produk yang dikembangkan oleh Hepatika," katanya.
Baca juga: Kemristek dorong peningkatan produksi alat tes cepat COVID-19
Baca juga: BPPT kembangkan alat tes pengukur antibodi setelah divaksin COVID-19
Pewarta : Nur Imansyah
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021