Sekolah dari rumah, hati-hati siapkan kudapan anak

Sekolah dari rumah, hati-hati siapkan kudapan anak

Hernie Raharja, Foods & Refreshment Director of Unilever Indonesia (Kiri atas), Memoria Dwi Prasita, Head of Marketing Ice Cream Unilever Indonesia (Kiri bawah), dr. Attila Dewanti, Sp.A (K) (Kanan atas), Sophie Navita (Kanan bawah) di webinar "Cemilan Baik Untukmu", Jumat (22/1/2021). ANTARA/HO.

Jakarta (ANTARA) - Aktivitas belajar dari rumah membuat ruang gerak anak jadi terbatas, padahal anak disarankan untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari. Waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah juga membuat anak berpotensi lebih banyak mengudap camilan.

Dokter spesialis anak dr. Attila Dewanti mengatakan, orangtua atau pengasuh harus berhati-hati menyiapkan kudapan anak yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Baca juga: Mengulik tren "mindful snacking" di kala pandemi

"Memberi camilan yang tidak sehat untuk anak dalam jangka panjang dapat membuat anak nantinya jadi rentan," kata Attila dalam bincang-bincang daring, Jumat.

Camilan sehat atau jajanan dengan kandungan kalori, gula dan lemak dalam batas wajar dapat diberikan kepada buah hati dua kali dalam sehari, di sela sarapan dan makan siang, juga pada sore hari.

Perhatikan juga porsi dan waktu mengudap, jangan terlalu banyak dan terlalu dekat dengan jam makan utama agar anak tidak kekenyangan sehingga tak nafsu makan.

Dia mengatakan, dalam satu hari sebaiknya anak-anak dan orang dewasa membatasi konsumsi gula agar tidak lebih dari 50 gram dan lemak jenuh tidak lebih dari 10 persen total energi. Untuk anak usia 7-9 tahun, asupan lemak jenuh yang disarankan per hari sekitar 18 gram. Camilan untuk anak juga disarankan mengandung tidak lebih dari 20 persen kebutuhan energi harian atau sekitar 330 kalori untuk anak usia 7-9 tahun.

"Penting sekali untuk mengecek apakah kalori, gula dan garamnya sesuai Angka Kecukupan Gizi anak," ujarnya.

Kudapan yang terlalu banyak mengandung gula dapat membuat anak lebih cepat mengantuk serta obesitas, apalagi pandemi membuat anak tak bisa leluasa bermain di luar rumah seperti biasa. Obesitas dapat berujung kepada penyakit darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi.

Sementara camilan yang mengandung terlalu banyak garam dan perisa bisa membuat anak ketagihan dan terus menginginkan makanan yang gurih. Dampak lainnya, anak jadi semakin pemilih dan sulit untuk beralih mengonsumsi makanan sehat.

"Membiasakan pola makan sehat sejak kecil itu penting untuk jangka panjang agar anak menerapkannya sampai besar," jelasnya.

Baca juga: Kapan anak boleh mulai makan es krim?

Baca juga: Tiga sendok makan gula harus diimbangi olahraga berapa lama?

Baca juga: Rahasia ahli kesehatan kontrol asupan gula hariannya
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021