Grup Takeda mulai produksi obat COVID-19 dari plasma darah

Grup Takeda mulai produksi obat COVID-19 dari plasma darah

Spesialis pengambil darah memeriksa tekanan darah pasien terinfeksi virus corona yang sembuh Monica Jacobs sebelum ia mendonasikan plasma convalescent di Pusat Donor Darah Central Seattle Barat Laut di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Seattle, Washington, Amerika Serikat, Rabu (2/9/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Lindsey Wasson/HP/djo

New York (ANTARA) - Grup Takeda Pharmaceutical, yang mengembangkan obat COVID-19 dari plasma darah, mulai melakukan produksi sambil uji klinis tahap tiga menentukan keampuhan obat tersebut, menurut CEO Takeda Christophe Weber pada Senin.

Grup itu, yang dikenal CoVIg Plasma Alliance, mendaftarkan pasien pertamanya dalam uji klinis Tahap 3 pada Jumat setelah tertunda selama berbulan-bulan. Pihaknya berencana mendaftarkan 500 pasien dewasa dari Amerika Serikat, Meksiko serta 16 negara lainnya dan berharap mendapatkan hasilnya akhir tahun ini.

"Peluang untuk berhasil sangat tinggi," kata Weber saat wawancara. "Dan itulah alasannya kami meluncurkan kampanye agar mempercepat donasi plasma konvalesen untuk membuat sekaligus memproduksi produk ini."

Aliansi, yang terdiri atas CSL Behring, Biotest AG Jerman dan perusahaan lainnya, sedang menguji terapi globulin hiperimun yang berasal dari plasma darah pasien sembuh COVID-19. Terapi globulin hiperimun menghasilkan dosis antibodi standar dan tidak perlu dibatasi pada pasien dengan kecocokan jenis darah.

Itu membuatnya lebih berkembang dan mudah ketimbang pengobatan dengan plasma konvalesen yang diambil dari pasien sembuh.

Baca juga: FDA siap mengizinkan plasma darah untuk pengobatan COVID-19
Baca juga: Negara bagian India berburu plasma darah untuk pasien COVID-19


Proses produksinya mahal.

Menurut Weber, pengobatan tersebut bisa saja sedikit lebih mahal dari obat antibodi monoklonal seperti yang dikembangkan Regeneron Pharmaceuticals dan Eli Lilly and Co. Aliansi tidak bermaksud mengambil keuntungan dari pengobatan tersebut, katanya.

CEO Takeda mengaku tidak mengetahui jumlah dosis obat yang mampu dihasilkan oleh grup tersebut pada akhir tahun ini. Itu tergantung pada donasi serta ukuran dosis yang mereka tetapkan dalam uji klinis.

Uji klinis tersebut akan menguji terapi globulin hiperimun yang digabungkan dengan obat antivirus remdesivir milik Gilead Sciences dibandingkan dengan pasien yang mengonsumsi remdesivir saja, katanya.

Sumber: Reuters

Baca juga: Uji coba plasma darah COVID-19 Takeda Jepang dijadwalkan bulan ini
Baca juga: AS izinkan plasma darah untuk mengobati COVID-19
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020