Festival perikanan terbesar di Indonesia Aquafest 2020 digelar virtual

Festival perikanan terbesar di Indonesia Aquafest 2020 digelar virtual

Ilustrasi - Pekerja mengecek ikan cupang jenis avatar di Galeri Balong Betta, Perumahan Graha Persada, Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (6/7/2020). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ (ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)

Jakarta (ANTARA) - Aquafest 2020, yang merupakan kegiatan festival tahunan akuakultur terbesar di Indonesia, diselenggarakan secara virtual oleh Himpunan Mahasiswa Akuakultur (Himakua) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University.

"Utamanya, kegiatan ini diselenggarakan untuk mengangkat pamor ikan-ikan hias Indonesia serta memperkenalkan akuakultur kepada masyarakat," kata Ketua Pelaksana Aquafest 2020 Muhammad Ikhsan dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Jakarta, Minggu.

Ikhsan mengatakan pandemi COVID-19 tidak menyurutkan keinginan untuk menggelar kegiatan tersebut. Aquafest 2020 dimulai pada 26 September 2020 dan akan berlangsung sampai 18 Oktober 2020.

Dalam kegiatan itu, terdapat dua kategori besar, yaitu e-conference dan perlombaan. E-conference berbentuk seminar virtual dan lokakarya, sedangkan perlombaan berupa kontes infografis, videografis, hingga kontes video foto.

Dalam pembukaan festival, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Luky Adrianto mengatakan kegiatan Aquafest merupakan branding dan ikon serta sebagai role model untuk menggabungkan kreativitas, ilmu pengetahuan dan bisnis di bidang perikanan dan kelautan.

"Saya berharap akuakultur dapat dijadikan sektor yang dapat memulihkan perekonomian Indonesia pascapandemi, tentunya dengan melibatkan multiscale farmer dari skala kecil hingga industri serta menjadi lokomotif utama perekonomian Indonesia," tutur Luky.

Pembukaan festival disertai dengan seminar virtual series pertama dengan topik utama "Transformasi Akuakultur dalam Menghadapi Tantangan serta Peluang di Era Disruptif". Seminar virtual (webinar) itu diadakan untuk menanggapi fenomena industri akuakultur yang kekurangan sumber daya manusia serta lemahnya penanganan penyakit ikan.

Dalam paparannya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan terdapat potensi luar biasa yang harus dikelola untuk pembangunan akuakultur ke depannya.

Komoditas unggulan baru yang terus bermunculan perlu dikelola lebih lanjut, misalnya ikan-ikan asli daerah perlu dikembangkan, seperti gabus, belida, hingga udang galah.

Dia menuturkan akuakultur di era pandemi ini sangat signifikan menyerap tenaga kerja dikarenakan beberapa tren yang sedang bermunculan, hanya perlu diperhatikan area budidayanya saja.

Adapun tantangan di era pandemi COVID-19 pada sektor budidaya perikanan adalah kondisi sarana dan prasarana yang kurang memadai, penurunan harga komoditas yang masih dirasakan hingga saat ini, hingga penyesuaian sistem logistik.

Sementara program utama pemerintah saat ini adalah peningkatan ekspor udang di 2024 sebagai komoditas dengan nilai terbesar di sektor perikanan budidaya.

Akuakultur berkelanjutan juga terus diupayakan, tak hanya di aspek produktivitas, tetapi juga perekonomian sosial di mana di tahun 2024, pemerintah akan mengusahakan minimal pendapatan warga di sektor tersebut di atas 4,6 juta rupiah per bulan.
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020