IPB University latih puluhan calon 'dokter pohon'

IPB University latih puluhan calon 'dokter pohon'

Seorang arboris tengah memeriksa pohon, Bogor, Selasa (22/9/2020). ANTARA/HO-Humas IPB University/am.

Jakarta (ANTARA) - Kluster Riset Arborikultur Institut Pertanian Bogor (IPB) University melalui Program Abdimas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengadakan pelatihan teknik pemeriksaan pohon di lanskap kota secara daring.

“Pelatihan ini diperuntukkan bagi yang memang membutuhkan pengetahuan dan teknik mutakhir untuk pemeriksaan kesehatan pohon dan perawatannya agar pohon atau pepohonan yang mereka miliki dan kelola tetap sehat dan tidak mudah tumbang, apalagi menjelang musim hujan seperti saat ini,” kata Ketua Kluster Riset Arborikultur IPB University Prof. Dr. Dodi Nandika melalui keterangan pers yang diperoleh ANTARA, Jakarta, Selasa.

Ketua riset yang juga dosen di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University itu mengatakan kegiatan pelatihan itu diselenggarakan mengingat saat ini budaya menanam pohon di lanskap kota telah berkembang.

Tidak hanya itu, jumlah pohon di berbagai kota dan kawasan properti juga terus meningkat, bahkan pengetahuan dan teknologi pemeriksaan kesehatan pohon dengan berbagai peralatan mutakhir juga berkembang pesat.

Baca juga: IPB University luncurkan sistem pemantauan lahan digital

Baca juga: Sistem "traceability" bisa bantu atasi mafia sapi, kata pakar IPB


Sejalan dengan itu, cekaman lingkungan terhadap pohon di lanskap kota juga semakin serius, termasuk akibat pencemaran lingkungan dan vandalisme.

Namun demikian, ketersediaan tenaga arboris atau 'dokter pohon' profesional masih sangat kurang, bahkan hampir tidak ada.

Oleh karena itu, sejak lima tahun lalu IPB University mendorong terbentuknya Kluster Riset Arborikultur dan menjadi inisiator pembentukan Masyarakat Arborikultur Indonesia (MArI).

Kehadiran kelompok peneliti dan kelompok peminat pohon tersebut ternyata mendapat respons positif dari masyarakat pencinta pohon, pengelola kawasan properti dan industri, serta beberapa pemerintah daerah, bahkan beberapa kedutaan besar di Jakarta.

Sementara itu, Ketua MArI yang juga dosen di Fahutan IPB University, Prof Dr Iskandar Z Siregar, menyatakan arborikultur dapat menjadi industri baru di Indonesia.

Buktinya, kata dia, arboris IPB University secara berkala diminta melakukan pemeriksaan kesehatan pohon di berbagai kota dan berbagai kawasan industri, kawasan wisata serta kawasan properti, bahkan sampai diminta jasanya memeriksa kesehatan pohon di Singapura.

“Lebih menarik lagi, tahun lalu, suatu yayasan internasional yang berkedudukan di London, Inggris meminta jasa arboris IPB University untuk memeriksa kesehatan sejumlah pohon besar dan berumur tua di pemakaman tentara asing di Ambon,” katanya.

Sementara, Prof Dr Lina Karlinasari, yang merupakan anggota Persatuan Arborikultur Malaysia (PArM) sekaligus dosen di Fahutan mengatakan bahwa IPB University pantas menyelenggarakan pelatihan semacam itu karena kampus tersebut memiliki dosen dengan kepakaran arborikultur.

Di samping memiliki peralatan mutakhir untuk pemeriksaan kesehatan pohon serta memiliki kerja sama dengan beberapa orang pemanjat pohon (Tree Climbers) profesional, ke depan, IPB University juga akan menyelenggarakan berbagai pelatihan lain terkait bidang arborikultur termasuk pelatihan panjat pohon profesional.*

Baca juga: Wali Kota Bogor: Rektor IPB jalani isolasi di Sentul

Baca juga: Rektor IPB minta alumni kompak dan tidak berkonflik
Pewarta : Katriana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020