Kekerdilan berhasil diatasi, terwujud SDM unggul

Kekerdilan berhasil diatasi, terwujud SDM unggul

Suasana Webinar FKM Unhas bertema"Perspektif Program Dalam Rangka Penyelamatan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)".ANTARA/HO

Makassar (ANTARA) - Permasalahan kekerdilan harus dapat diatasi untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul, kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo.

“'Stunting' (kekerdilan) bukanlah 'single problem', tetapi masih banyak yang menjadi permasalahan gizi di balik itu salah satunya kehamilan yang terjadi di usia muda," katanya dalam keterangan tertulis di Makassar, Senin.

Hasto menjadi salah satu narasumber pada webinar FKM Unhas bertema "Perspektif Program Dalam Rangka Penyelamatan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)".

Dia menjelaskan perempuan hamil pada usai muda menyebabkan tulang berhenti tumbuh.

Kehamilan pada umur 15 atau 16 tahun menyebabkan kalsium yang seharusnya untuk pertambahan panjang tulang, justru disalurkan ke janin sehingga si ibu menjadi pendek (pertumbuhan terhenti) dan anak juga menjadi pendek.

"Olehnya itu periode 1.000 HPK sangat penting dan menjadi prioritas utama yang dimulai 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah lahir," ujar Hasto.

Baca juga: Pemerintah targetkan angka "stunting" di bawah 680 ribu per tahun

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) Lenny N. Rosalin menyampaikan isu yang umumnya beredar mengenai kesehatan anak yakni terjadinya kondisi gagal tumbuh kembang.

Dia mengatakan pula peran ASI penting bagi tumbuh dan kembang anak, sebab balita yang tidak diberikan ASI ekslusif sejak lahir akan memiliki risiko kekerdilan 4,8 kali dibandingkan dengan balita yang diberikan ASI eksklusif sejak lahir.

Ia juga menjelaskan secara terperinci periode emas dan tumbuh kembang anak dan membaginya ke dalam empat tahap, yaitu prakonsepsi, janin (dalam rahim), neonatus, dan bayi.

"Peran keluarga juga harus dioptimalkan sebagai pelopor dalam pencegahan 'stunting' melalui pemberian makanan dengan benar, memberi ASI+MPASI secara tepat, meningkatkan imunitas melalui asupan gizi yang baik, serta penerapan pola hidup sehat. Jika anak sakit, maka pihak keluarga harus segera melapor ke fasilitas pelayanan kesehatan," kata dia.

Baca juga: Dinkes Makassar tetap fokus tangani kekerdilan saat pandemi COVID-19
Baca juga: Kepala BKKBN: ASI eksklusif mencegah anak stunting
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020