California, New York, Texas tak akan kurangi pengujian COVID-19

California, New York, Texas tak akan kurangi pengujian COVID-19

Warga memakai masker saat mengantre di lokasi uji penyakit virus corona (COIVD-19) disediakan bagi mahasiswa yang kembali, fakultas dan staf di kampus utama Universitas New York (NYU) di Manhattan, New York, Amerika Serikat, Selasa (18/8/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar/AWW/djo (REUTERS/MIKE SEGAR)

New York (ANTARA) - Sejumlah negara bagian besar di Amerika Serikat tidak mengindahkan seruan baru, yang dikeluarkan pejabat kesehatan federal, agar pengujian COVID-19 dikurangi pada sebagian orang yang terpapar virus corona.

Arizona, California, Connecticut, Florida, Illinois, Texas, New Jersey, dan New York bergabung dengan para pakar kesehatan masyarakat dalam mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Negara-negara bagian tersebut berencana untuk terus melakukan tes pada orang-orang tanpa gejala yang telah terpapar COVID-19, meskipun ada panduan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) --yang menyatakan bahwa tes semacam itu mungkin tidak diperlukan.

"Panduan yang dianut Texas saat ini merekomendasikan pengujian untuk semua orang yang telah melakukan kontak dekat dengan orang yang dikonfirmasi mengidap virus karena langkah itu memungkinkan untuk identifikasi kasus secara dini di antara orang-orang yang berisiko lebih tinggi tertular," kata juru bicara Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas dalam pernyataan. "Saat ini, tidak ada rencana melakukan perubahan."

California dan New York membuat pernyataan serupa. Departemen Kesehatan Florida mengatakan pengujian pada orang tanpa gejala terus berlanjut sementara rekomendasi CDC yang baru sedang dievaluasi.

Texas juga mengatakan akan melakukan evaluasi.

CDC pekan ini mengatakan orang-orang yang terpapar COVID-19, tetapi tidak bergejala, mungkin tidak perlu diuji.

Pernyataan itu mengejutkan kalangan dokter dan politisi serta memicu tuduhan bahwa pedoman itu bermotif politik.

Bahkan sebelum CDC mengeluarkan pedoman itu, pengujian virus corona di Amerika Serikat sudah menurun.

Amerika Serikat pekan lalu menguji rata-rata 675.000 orang per hari. Jumlah itu turun dari puncaknya pada akhir Juli, sebanyak lebih dari 800.000 orang per hari.

Secara nasional, kasus corona telah turun selama lima minggu berturut-turut namun penularan melonjak lagi di Midwest AS.

Di kawasan itu, empat negara bagian melaporkan rekor peningkatan satu hari dalam kasus-kasus yang tercatat pada Kamis (27/8).

Sementara itu, jumlah kematian di seluruh AS naik melebihi 180.000.

CDC sebelumnya merekomendasikan agar semua orang menjalani pengujian bagi yang melakukan kontak dekat dengan seseorang yang didiagnosis dengan COVID-19.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan negara bagian New York tidak akan mematuhi pedoman baru tersebut. Ia juga menantang pernyataan bahwa perubahan itu tidak bermuatan politik.

"Pedoman pengujian COVID-19 merupakan perubahan 180 derajat yang sembrono, tidak berdasarkan sains dan berpotensi merusak reputasi (CDC) dalam jangka panjang," kata Cuomo dalam pernyataan bersama gubernur New Jersey dan Connecticut, yang juga menyatakan negara bagian tidak akan mengikuti panduan CDC.

Direktur CDC Robert Redfield mengeluarkan pernyataan pada Kamis bahwa "setiap orang yang membutuhkan tes COVID-19, bisa mendapatkan tes," tetapi "setiap orang yang menginginkan tes tidak perlu dites."

Sumber: Reuters

Baca juga: AS izinkan plasma darah untuk mengobati COVID-19

Baca juga: Ketua DPR AS tekankan perlunya bantuan COVID-19 "sekarang"

 
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2020