Bukalapak bagikan tips pemasaran e-commerce bagi UMKM

Bukalapak bagikan tips pemasaran e-commerce bagi UMKM

Pekerja memotret produk sepatu Prospero yang akan dipasarkan melalui platform digital di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (3/7/2020). Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, sebanyak 9,4 juta UMKM sudah menggunakan atau memasarkan produknya melalui pasar e-commerce dan mendapatkan manfaat penggunaan teknologi digital untuk transaksi lintas batas. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr/pras

Jakarta (ANTARA) - Situs jual beli dalam jaringan (daring) Bukalapak membagikan tips pemasaran produk bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan pangsa pasar di platform perdagangan elektronik atau e-commerce agar usahanya tetap bertahan pada masa pandemi COVID-19.

“Kita harus menentukan target pasarnya,” kata Merchant Community and Engagement Lead Bukalapak Ian Agisti Dewi Rani dalam webinar strategi bisnis UMKM di Jakarta, Rabu.

Setelah menentukan target pasar, lanjut dia, pelaku usaha harus mengetahui demografi atau profil konsumen di antaranya usia, gender, status (menikah/belum menikah), kemudian lokasi konsumen agar memudahkan kampanye pemasaran.

Selain itu, pelaku UMKM perlu memetakan jenis industri yang menjadi basis pekerjaan target konsumen, tingkat penghasilan konsumen untuk menentukan harga produk, hobi konsumen, dan cara konsumen mendapatkan informasi.

“Apa melalui koran, media sosial, majalah atau spanduk, ini menentukan pengeluaran kita untuk pemasaran,” imbuhnya.

Karakteristik gender, lanjut dia, juga menjadi pertimbangan khususnya dalam pengemasan misalnya jika target pasar adalah perempuan maka perlu memasukkan warna khas seperti merah muda.

Berdasarkan data yang dihimpun akhir tahun 2019, sekitar 70 persen konsumennya adalah laki-laki dan 30 persen perempuan. Meski begitu, produk yang terjual paling banyak yakni kebutuhan rumah tangga, antara laki-laki dan perempuan dalam porsi yang sama yakni 11 persen.

Dari data itu, lanjut dia, juga disebutkan bahwa laki-laki banyak membeli peralatan elektronik, peralatan yang sifatnya hobi dan koleksi, sedangkan perempuan lebih banyak membeli fesyen dan produk kecantikan.

Setelah menentukan target pasar, lanjut dia, pelaku usaha perlu memahami karakter konsumen, mengingat 52 persen konsumen yang ingin berbelanja daring mencari informasi terlebih dahulu di toko daring dan hanya enam persen ke toko fisik.

Informasi itu di antaranya terkait harga, nama toko, merek, stok, biaya kirim hingga ulasan atau pengalaman konsumen lain yang sebelumnya melakukan transaksi.Sedangkan faktor yang menjadi pertimbangan konsumen membeli adalah harga yang didukung jaminan keamanan, hingga reputasi toko.

Pengemasan juga menjadi perhatian konsumen di antaranya foto, judul produk, harga, peringkat hingga label untuk menambah kepercayaan dari konsumen yang diberikan e-commerce atas penilaian kinerja mereka.

Penilaian itu, kata dia, di antaranya jumlah barang terjual, kecepatan respons, kecepatan pengiriman, hingga kecepatan menjawab pesan.

Baca juga: Alibaba bantu UMKM Indonesia buka akses global kala pandemi
Baca juga: Presiden Jokowi: UMKM segera masukan "e-catalogue"
Baca juga: Teten gelar pelatihan e-learning untuk koperasi dan UMKM

Pewarta : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020