Menteri: Perlu lebih eksploratif kembangkan bahan baku obat dari laut

Menteri: Perlu lebih eksploratif kembangkan bahan baku obat dari laut

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro berbicara kepada wartawan di sela Rapat Kerja BPPT 2020 "Penguatan Daya Saing Melalui Inovasi,  Transformasi Digital dan Kualitas SDM" di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (24/02/2020). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Indonesia perlu lebih eksploratif mengembangkan bahan baku obat dari keanekaragaman hayati atau biodiversitas, terutama yang ada di dalam laut, yang masih belum dimanfaatkan optimal.

"Ke depan karena memang penyakit juga makin bervariasi, ya kadang-kadang kita terkaget-kaget dengan penyakit yang belum ada solusinya, belum ada obatnya, belum ada vaksinnya, maka mau tidak mau kita harus lebih eksploratif juga melihat bahan baku obat dari laut, apakah di permukaan, seperti rumput laut, ganggang laut atau sampai bahkan ke laut dalam," kata Menristek Bambang kepada wartawan, Jakarta, Rabu.

Dia menuturkan ke depan perlu memperbanyak obat modern asli Indonesia, baik dari variasi sumber keanekaragaman hayati yang dipakai sebagai sumber bahan baku obat maupun untuk jenis penyakit yang disasar.

Menristek mendorong riset-riset yang mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas untuk menghasilkan obat.

Peneliti harus meneliti berdasarkan kebutuhan pasar, tidak semata karena kesenangan di bidang yang dikuasai sehingga hasil produk riset, teknologi dan inovasi dapat benar-benar dirasakan manfaatnya.

Untuk pengembangan obat dan alat kesehatan, kata dia, maka penguatan triple helix harus dilakukan, yakni antara peneliti atau akademisi, pemerintah dan dunia industri.

Baca juga: Menristek: Indonesia harus jadi tuan rumah produksi obat dalam negeri

Menurut Bambang, harus ada sinergi yang kuat antarkomponen pencipta produk inovasi, industri sebagai pengguna teknologi dan inovasi, dan pemerintah sebagai fasilitator.

Semua pelaku di hulu dan hilir, katanya, sama-sama saling mendekatkan diri sehingga peneliti melakukan penelitian dan pengembangan yang sungguh bermanfaat besar dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan industri berdasarkan masukan dari dunia swasta tentang produk yang dibutuhkan pasar.

Baca juga: Menristek inginkan pengembangan obat modern asli Indonesia meningkat

Jika tidak ada sinergi dan komunikasi yang kuat, kata Bambang, maka dapat terjadi produk inovasi atau teknologi yang dihasilkan peneliti tidak banyak digunakan oleh dunia swasta atau pengguna, padahal hasil penelitian dan pengembangan diharapkan dapat menjawab kebutuhan dunia industri dan permasalahan bangsa serta meningkatkan ekonomi Indonesia.

Menurut Menristek, hingga saat ini 90 persen bahan baku obat dan 90 persen alat kesehatan yang digunakan di Indonesia masih berasal dari impor. Ini menjadi tantangan bagi para peneliti dan dunia usaha serta masyarakat untuk mampu berinovasi menghasilkan substitusi impor sehingga diperoleh kemandiran bangsa.

Padahal, kata dia, Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang berguna untuk memproduksi bahan baku obat, namun belum banyak dieksplorasi.

"Masih besar peluang Indonesia untuk menjadi pemain yang serius di pasar obat dan alat kesehatan," ujarnya.

Baca juga: Menkes dorong penggunaan obat berbahan asli Indonesia di pelayanan JKN

Ia mengatakan, obat modern asli Indonesia yang tentunya harus menjadi bagian dari ambisi kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap obat impor.

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020