PLN perkenalkan membatik gunakan canting dan kompor listrik

PLN perkenalkan membatik gunakan canting dan kompor listrik

Penyelenggaraan "The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy" kerja sama PLN dan Gallery Amandari Batik. ANTARA/Ganet Dirgantoro

Jakarta (ANTARA) - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkenalkan cara membatik menggunakan kompor dan canting listrik ramah lingkungan dan hemat energi.

Sosialisasi penggunaan kompor listrik ini bekerja sama dengan Gallery Amandari Batik melalui kegiatan "The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy" bertempat di Magnolia Room Hotel Gran Mahakam Jakarta Selatan, Rabu.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani dalam acara tersebut mengatakan PLN menghadirkan suatu trasformasi yaitu mengajak kaum millenial yang budayanya adalah serba instan, dapat tetap turut membatik dengan menggunakan kompor dan canting listrik yang tingkat efisiensinya bisa mencapai 63 persen.

"Oleh karenanya dalam acara ini terdapat dua sesi pertemuan. Pertama, untuk kalangan milenial di mana adanya transformasi dalam membatik, dan kedua tentang bagaimana membawa batik ke pasar global," kata Sripeni.

Baca juga: Canting Batik Elektrik "Made In" Arek Surabaya
Baca juga: Berawal pinjam modal, Batik Chanting Pradana kini maju


Batik merupakan jembatan komunikasi karena sudah melekat pada semua kalangan, sebutlah sosialita, pengusaha, pemerhati budaya maupun fashionpreneur dengan jaringan internasional, kata pemilik Gallery Amandari Batik, Uti Rahardjo.

"Untuk itu kami mengundang mereka, yang concern terhadap batik termasuk fashionpreneur yang sudah berpengalaman di beberapa negara," ungkapnya.

Kompor dan Canting Listrik

Batik memiliki tiga unsur yang terangkum dalam tema besar acara tersebut, yakni legacy, investment, dan diplomacy.

Tidak hanya hasil budaya, tetapi dari hasil proses pembuatannya, batik juga harus bisa berinovasi dan bertransformasi sehingga bisa terus dilestarikan.

Dinamika dunia ini berubah sungguh cepat, di mana harus ada adaptasi yang harus dilakukan, sehingga bisa sesuai dengan zamannya. Tetapi, dia juga tidak ingin batik sekadar printing, karena masih ada idealisme batik itu harus dibatik secara tradisional.

"PLN memiliki visi dan misi yang ingin memelihara legacy. Legacy-nya PLN adalah membuat sesuatu lebih praktis, bersih, dan aman," kata Uti.

Maka dari itu, alternatif atau transformasinya adalah membatik menggunakan dengan kompor listrik yang sepaket dengan canting listrik (elektrik).

Baca juga: Menperin: tambah koleksi batik daerah saat "travelling"
Baca juga: Batik tulis "Biru Lancor" Probolinggo kembangkan motif nuansa klasik


Terkait dengan canting elektrik ini, kelebihannya adalah pengrajin atau pembatik tidak perlu lagi untuk meniup cucuk canting sebelum menggoreskan motif. Alhasil, proses dalam pembuatan pola lebih cepat selesai.

Artinya, dengan alat yang inovatif tersebut, pengrajin tidak perlu lagi sibuk untuk mengecek tingkat panasnya. Sehingga pengrajin bisa lebih fokus membuat batik.

"Kalau lebih fokus, harapannya proses pembatikan bisa lebih cepat, dan secara ekonomis lebih baik," Uti berharap.

Batik dari segi investasi memiliki nilai cukup tinggi. Karena sebuah batik yang unik, seperti sebuah lukisan yang hanya ada satu di dunia, sebagai collectible investment.

Sebagai investasi lain, sekarang semua orang sudah mencintai batik, bahkan sudah banyak desainer luar memakai bahan batik sebagai bahan dasar desain mereka. Di era digital seperti sekarang, pembatik bisa lebih mudah untuk bisa memasarkan batiknya ke luar negeri.

"Jadi investasi di sini juga market-nya semakin luas," terang Uti.

Batik Amandari sendiri, setelah event ini, akan tetap menjalin kerja sama dengan PLN.

"Ini kan merupakan CSR dari PLN maupun Batik Amandari. Kami sebagai pengusaha juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang ingin merepresentasikan dirinya," jelas Uti.

Baca juga: Pengusaha batik tulis incar pasar luar negeri
Baca juga: Songkok batik tulis Madura laris jelang Lebaran
Baca juga: Pontianak gelar pembuatan batik tulis terpanjang se-Kalbar

 
Pewarta : Ganet Dirgantara
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019