Indonesia-Belanda bahas penanganan mantan simpatisan ISIS di Suriah

Indonesia-Belanda bahas penanganan mantan simpatisan ISIS di Suriah

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H (kiri) saat Workshop on Managing FTF Returnees from Syria Including Women and Children yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Badan Anti Terorisme Belanda, Nationaal Coƶdinator Terrorismebestridjing en Veiligheid (NCTV) di Jakarta, Senin. (7/10/2019) (ANTARA/Humas)

Jakarta (ANTARA) - Badan penanggulangan terorisme Indonesia dan Belanda menggelar workshop membahas penanganan kombatan (FTF) dan mantan simpatisan ISIS (returnis) yang kini berusaha kembali ke negara masing-masing.

Workshop on Managing FTF Returnees from Syria Including Women and Children diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Badan Anti Terorisme Belanda, Nationaal Coödinator Terrorismebestridjing en Veiligheid (NCTV) di Jakarta, Senin, demikian keterangan tertulis yang diterima Antara.

Baca juga: Presiden: Terorisme dan radikalisme masih menjadi tantangan serius

Baca juga: Kominfo blokir 1500 situs dan medsos konten radikalisme-terorisme

Baca juga: MPR: Jangan biarkan kognisi Pancasila generasi muda terabaikan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H saat membuka kegiatan tersebut mengatakan tujuan diselenggarakan workshop diantaranya memberikan masukan dalam membuat peraturan terkait isu FTF dan Returnis tersebut.

"Negara harus mengembangkan peraturan yang sesuai dalam menangani isu terkait FTF dan returnis secara komprehensif dan efektif, dalam framework peraturan Internasional dan nasional. Itulah tujuan dari workshop hari ini," katanya.

Selain itu, menurut Suhardi, kegiatan tersebut juga bertujuan sebagai wadah dari negara-negara dalam menyampaikan pengalaman dan permasalahan terkait returnis dan FTF, sehingga nantinya bisa menambah perspektif dan pengetahuan terkait isu ini.

Suhardi berharap workshop ini dapat memberikan manfaat bagi negara-negara peserta workshop dalam menangani FTF dan Returnis. Ia sendiri menyatakan siap untuk berdiskusi lebih lanjut terkait permasalahan yang dihadapi.

"Kita harap workshop hari ini akan memberi manfaat kepada semua partisipan. Saya juga menanti untuk berdiskusi terkait hal-hal dan apa yang dibutuhkan dalam menangani returnis, termasuk wanita dan anak-anak yang terasosasi dengan FTF," katanya.

Sementara itu, Kepala NCTV Pieter-Jaap Aalbersberg mengaku senang berada di Jakarta dan bertemu dengan sahabatnya, Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius. Lebih gembira lagi, ia bisa memperkuat kerjasama dalam penanganan terorisme.

"Seperti yang saya katakan tadi, kerjasama internasional sangat panting dalam menangani terorisme. Saya bertemu BNPT selaku lembaga yang sudah memiliki pengalaman menangani terorisme," kata Aalbersberg.

Ia mengungkapkan antara BNPT dan NCTV sudah memiliki MOU penanggulangan terorisme. MoU itu meliputi kerjasama semua ahli dan intelijen, deradikalisasi, pendekatan lokal.

"Kita berbagi bagaimana membuat lembaga kita lebih baik. Khususnya hari ini dimana kita membuka konferensi, tentang FTF, khususnya deradikalisasi. Dengan kunjungan ini saya harap bisa belajar dari BNPT dalam menangani terorisme di Belanda," katanya.

Dalam workshop ini hadir pula Kepala Badan Anti Terorisme Belanda, Pieter-Jaap Aalbersberg, Deputi Bidang Kerjasama Internasional BNPT, Andhika Chrisnayidhanto, Direktur Bilateral BNPT Bridjen Pol. Drs. Kris Erlangga Aji Widjaya, Direktur Perangkat Hukum Internasional BNPT, Brigjen TNI (Mar) Yuniar Ludfi, Direktur Penindakan BNPT Brigjen Pol. Torik Triyono serta perwakilan dari negara-negara dan organisasi peserta workshop.

Setelah workshop delegasi Kepala BNPT dan delegasi NCTV bersama Perdana Menteri Belanda Mark RUtte diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Setelah acara kenegaraan itu, rombongan NCTV mengunjungi kantor BNPT di Sentul sekaligus berdiskusi lebih dalam tentang realisasi kerjasama yang pernah ditandatangani kedua negara di Amsterdam, Juni 2019 lalu.

Pewarta : M Arief Iskandar
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019