Polisi tetapkan 13 tersangka ricuh Wamena

Polisi tetapkan 13 tersangka ricuh Wamena

Sejumlah pengungsi berjalan seusai turun dari pesawat Hercules setibanya di Pangkalan Udara TNI AU Hasanuddin, Makassar, Senin (7/10/2019). Sebanyak 170 pengungsi korban kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua asal Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Jakarta tiba di Pangkalan Udara TNI AU Hasanuddin untuk selanjutnya kembali ke daerah masing-masing. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Jakarta (ANTARA) - Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian Indonesia, Komisaris Besar Polisi Asep Adi Saputra, mengatakan, mereka telah menetapkan 13 tersangka yang diduga terlibat dalam demonstrasi berujung kerusuhan dan perusakan hingga ada korban jiwa dan gelombang pengungsian warga di Wamena, Jayawijaya, Papua yang terjadi beberapa waktu lalu.

Dari jumlah tersebut, tiga orang di antaranya masih buron. "Dari 13 (tersangka) ini, 10 orang sudah ditahan dan tiga orang masih DPO (daftar pencarian orang)," kata Saputra, Jakarta, Senin.

Para tersangka diduga telah melakukan penghasutan (dijerat dengan pasal 160 KUHP), melakukan kekerasan (pasal 170 KUHP) dan melakukan pembakaran (pasal 187 KUHP).

"Ini yang menjadi dasar mereka diproses," katanya.

Barang bukti yang disita dari para tersangka di antaranya 34 batu yang digunakan untuk menyerang, satu unit motor terbakar, satu kendaraan Toyota Hilux dan rekaman video. "Rekaman ini disita sebagai bukti petunjuk. Ini (video) yang juga diviralkan sebagai hoaks," katanya.

Sebelumnya terjadi demonstrasi di Wamena pada 23 September 2019 yang menyebabkan sedikitnya 31 orang meninggal dunia dan banyak lagi korban luka-luka. Kerusuhan itu diikuti aksi kekerasan fisik dan pembakaran rumah, pertokoan, perkantoran, dan lain-lain. 

Juga baca: Tjahjo Kumolo tegaskan isu soal warga pendatang di Wamena telah usai

Juga baca: TNI AU siap fasilitasi pengungsi yang ingin kembali ke Wamena

Juga baca: Puluhan pengungsi Wamena tiba di Tanjung Perak Surabaya
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019