Konsorsium Singapura-Indonesia jadi calon operator Bandara Labuan Bajo

Konsorsium Singapura-Indonesia jadi calon operator Bandara Labuan Bajo

Kepala Seksi Kerja Sama dan Pengembangan Pengusahaan Bandara Kementerian Perhubungan Arif Mustofa memaparkan soal proyek KPBU Bandara Labuan Bajo di Ruang Wartawan Kemenhub, Jakarta, Jumat (4/10/2019). ANTARA/Juwita Trisna Rahayu

Jakarta (ANTARA) - Konsorsium perusahaan Singapura, yakni Changi Aiports International Pte Ltd, Changi Airport MENA Pte Ltd dan perusahaan Indonesia PT Cardig Aero Service dinyatakan lolos tahap pertama dalam lelang dengan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) Bandara Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Seksi Kerja Sama dan Pengembangan Pengusahaan Bandara Kementerian Perhubungan Arif Mustofa di Ruang Wartawan Kemenhub, Jakarta, Jumat menyebutkan terdapat lima konsorsium yang mengikuti lelang tahap pertama, namun yang dinyatakan lolos hanya konsorsium Changi-Cardig.

"Cardig itu lokal, dia perusahaan lokal. Konsorsium awalnya ada lima. yang lolos tinggal satu, mitra asingnya dua, setelah itu tahap dua selesai baru kita award. Nanti ini memenangkan pertandingan maju ke dalam proses berikutnya, jadi financial close," katanya.

Baca juga: BKPM tawarkan investasi Bandara Komodo Rp3 triliun dengan skema KPBU

Arif menyebutkan lima konsorsium tersebut, adalah Changi-Cardig; Astra dengan perusahaan Prancis; PT Angkasa Pura II dengan perusahaan Malaysia Muhiba; Indika Group dan perusahaan Prancis; dan PT Angkasa Pura I dengan perusahaan India GVK.

Untuk memastikan kredibilitas konsorsium itu, ia mengatakan pihaknya juga telah melakukan survei ke bandara-bandara yang dioperasikan oleh perusahaan tersebut, di antaranya bandara di Cyprus, Rio de Janeiro-Brazil dan Siem Reap-Kamboja.

"Konsorsium ini hebat-hebat, karena sudah mengoperasikan bandara-bandara di dunia. KPBU ini sudah tidak bisa dibendung, sudah terlalu terlambat di negara lain sudah pakai public-private partnership ini," katanya.

Ia memaparkan alasan membuka lelang kepada perusahaan asing karena mencari yang berpengalaman dalam mengoperasikan bandara di pasar internasional.

"Ada market-market yang belum kita kelola, untuk mengelola market internasional, tidak hanya bisa bangun bandara, kita punya BUMN karya jago-jago, tapi untuk airport operator yang punya link internasional yang membangun jaringan-jaringan wisata internasional yang lebih penting," katanya.

Jadi, lanjut dia, harapannya, operator tersebut bisa mengembangkan area komersial di sekitar bandara, agar keuntungan yang didapat kedua belah pihak, baik pemerintah maupun operator wajar.

Keuntungan KPBU, jelas Arif, pemerintah bisa menghemat APBN karena tidak mengeluarkan biaya untuk pengembangannya, selain itu mendapatkan biaya konsesi minimum 2,5 persen, biaya pemakaian parkir pesawat (apron) serta setoran kelebihan keuntungan yang ditargetkan operator.

"Katakanlah tahun ini dia untung Rp50 miliar targetnya, tapi dapatnya Rp60 miliar, Rp10 miliar disetorkan ke kas negara," katanya.

Setelah lelang tahap satu, dilakukan dialog optimalisasi, kemudian awarding dan financial close, yakni memberikan kesempatan kepada operator untuk menggalang dana dari eksternal, contohnya perbankan.

"Waktu yang kita berikan kepada konsorsium untuk mencari pendanaan, proyek itu tidak semua sendiri, uangnya sendiri, ada uangnya dari perbankan juga masuk, saatnya mereka mencari lender, perbankan yang membantu untuk membiayai proyek ini, kita rencanakan sembilan bulan," katanya.

Arif menjelaskan Labuan Bajo dipilih karena untuk mendukung sektor pariwisata dengan sudah ditetapkan sebagai lima Bali Baru dan diharapkan ke depannya bisa masuk penerbangan langsung internasional, seperti dari Thailand dan Jepang.

Baca juga: Presiden Jokowi: Progres pengembangan wisata prioritas masih lambat
Baca juga: Kawasan terpadu ASDP di Labuan Bajo ditargetkan selesai Juli 2020

Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019