Menteri Irak: OPEC+ akan bahas pemotongan minyak lebih dalam

Menteri Irak: OPEC+ akan bahas pemotongan minyak lebih dalam

File Foto: Menteri Perminyakan Irak Thamer Ghadhban berbicara selama konferensi pers di Baghdad, Irak 17 Juli 2019. REUTERS/Khalid Al-Mousily/File Foto

Abu Dhabi (ANTARA) - OPEC dan sekutunya akan membahas apakah ada kebutuhan untuk pengurangan produksi minyak yang lebih dalam ketika mereka mengadakan pertemuan tingkat menteri pada Kamis, kata menteri perminyakan Irak.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan produsen sekutu yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, tahun lalu sepakat untuk mengurangi pasokan minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) untuk mendukung harga. Pemotongan mulai berlaku pada 1 Januari.

Menteri Perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan bahwa ketika OPEC dan sekutu-sekutunya bertemu pada Juni "ada pemahaman umum bahwa mungkin enam bulan sejak Januari tidak cukup (waktu) untuk menilai pemotongan yang telah kami perkenalkan dan kami membutuhkan dua bulan lagi."

Baca juga: Harga minyak turun tertekan kekhawatiran kelebihan pasokan

"Itulah sebabnya pertemuan ini akan diadakan besok, untuk melihat apakah kita harus melanjutkan pemotongan ini atau haruskah kita memperkenalkan pengurangan yang lebih dalam," katanya, Rabu (11/9/2019). "Ini bukan keputusan sepihak, itu adalah keputusan bersama."

Komite pengawasan gabungan menteri OPEC+, yang dikenal sebagai JMMC, bertemu pada Kamis di Abu Dhabi di sela-sela konferensi energi.

Menteri Irak mengatakan bahwa ketika pemotongan OPEC+ awalnya mempertimbangkan pemotongan pada November "ada dua alternatif 1,6 dan 1,8 juta barel per hari".

"Tapi ada pertentangan oleh beberapa anggota dan itulah mengapa kami menyepakati 1,2 juta barel per hari," katanya.

Harga minyak Brent telah jatuh ke sekitar 60 dolar AS per barel dalam beberapa pekan terakhir dari tertinggi 2019 di 75 dolar AS per barel, karena kekhawatiran tentang ekonomi global yang melambat melebihi gangguan pasokan dari Iran dan Venezuela yang terkena sanksi.

Pelaku pasar khawatir perang perdagangan AS-China dapat mendorong pertumbuhan permintaan minyak di bawah satu persen untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan dia prihatin dengan perlambatan ekonomi global. Dia mengatakan kepada wartawan bahwa permintaan yang melambat akan dibahas pada pertemuan Kamis tetapi mengatakan tidak ada proposal konkret sejauh ini untuk menyesuaikan hasil.

Menteri energi baru Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengesampingkan kekhawatiran tersebut minggu ini, mengatakan permintaan akan meningkat setelah ancaman perdagangan menghilang.

Ghadhban, yang negaranya adalah produsen minyak terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi, mengatakan ia bertemu dengan menteri energi Saudi dan Rusia pada Rabu (11/9/2019).

Mengenai hasil produksi Irak, Ghadhban mengatakan wilayah Kurdi Irak harus menghormati kewajibannya terkait ekspor minyak dan bagiannya dalam anggaran federal.

Pemerintah Daerah Kurdi seharusnya memberikan 250.000 barel minyak per hari kepada pemerintah federal tetapi sejauh ini tidak mematuhi, katanya.

Menteri Irak, berbicara di Kongres Energi Dunia di Abu Dhabi, mengatakan Irak akan terus mengimpor gas dari Iran dan bahwa ada sedikit kemungkinan membuka kembali pipa ekspor minyak melalui Arab Saudi.

Ghadhban mengatakan Irak bertujuan untuk mengeksplorasi gas di gurun baratnya, dengan mengatakan negara itu memiliki "potensi besar". Dia mengatakan Baghdad menandatangani kontrak dengan perusahaan Rusia untuk blok eksplorasi gas.

Baca juga: OPEC pangkas perkiraan permintaan minyak 2020, cegah kelebihan baru
Baca juga: Harga minyak naik, setelah Putra Raja Salman tegaskan kurangi produksi
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019