Kaum muslim Kalsel bergotong royong buat Bubur Asyura

Kaum muslim Kalsel bergotong royong buat Bubur Asyura

ILUSTRASI: Warga membawa bubur Asyura yang akan dibagikan kepada warga lainnya saat tradisi membagi bubur asyura di komplek makam Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/am.

Banjarmasin (ANTARA) - Kaum Muslim (terutama dari kalangan kaum tuha/tua) Banjar Kalimantan Selatan (Kalsel) ramai bergotong royong membuat Bubur Asyura pada 10 Muharram 1441 Hijriah yang bertepatan dengan 10 September 2019.

Pantauan Antara Kalsel di Banjarmasin, Selasa, kegiatan membuat Bubur Asyura tersebut bukan saja dari kaum perempuan, tetapi juga laki-laki dewasa atau sudah berusia mendekati setengah baya ke atas.

Seperti halnya warga Gajah Mada Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin kembali membuat Bubur Asyura pada 10 Muharram 1441 H, dimana dalam penyediaan bahan baku serta pengerjaannya dilakukan secara bergotong royong.

Pembuatan Bubur Asyura tersebut rutin tiap tahun atau sudah menjadi tradisi setiap 10 Muharram yang hasil masakannya mereka makan/nikmati bersama-sama pula sesudah membaca doa Asyura serta tolak bala.

Baca juga: Sandiaga disuguhkan bubur Asyura buka puasa di mesjid Jami Banjarmasin

Baca juga: Sambut 10 Muharram, pedagang mulai ramai jual peralatan dapur

 

Pererat silaturrahmi dalam tradisi membuat bubur asyura



Menurut sejumlah ustadz di antaranya Drs H Hasan Basri dari "kota seribu sungai" Banjarmasin, membaca doa Asyura dan tolak bala tersebut penting bagi siapa saja pada 10 Muharram, kendati tanpa sajian seperti bubur.

"Doa Asyura dan tolak bala itu agar kita terhindar atau selamat dari segala bentuk/macam bala bencana," ujar ustadz yang keliling mengisi khotbah menjelang shalat Jum'at di ibu kota Kalsel yang berjuluk kota seribu sungai tersebut.

Beberapa riwayat, antara lain menerangkan pada 10 Muharram itu, Nabi Ibrahim alaihi salam (AS) selamat atas kobaran api Raja Namrud, serta Nabi Musa AS selamat dari kejaran pasukan Fir'aun.

"Banyak lagi ceritera lain terkait Hari Asyura. Oleh karena itu tidak heran banyak kaum Muslim melaksanakan ibadah puasa Sunnah pada 9 dan 10 Muharram," katanya.

"Puasa Sunnah tersebut sebagai tanda turut bersyukur atas keselamatan nabi-nabi Allah dan semoga pula kita mendapatkan keselamatan di dunia serta alam akhirat kelak yang kekal dan abadi," kata Hasan Basri.

Sementara ada ustadz lain, Gazali mengingatkan bahwa Muharram termasuk bulan yang diharamkan Allah SWT dimana segala bentuk perbuatan kejahatan akan langsung menerima akibatnya.

"Sebagaimana kalau kita berbuat jahat di tanah haram (Mekkah dan Madinah) akan segera mendapat akibatnya," ujar Gazali, pengasuh salah satu pondok pesantren di Kabupaten Banjar, Kalsel.

Oleh sebab itu, Allah dan Rasulullah Mulai SAW menganjurkan memperbanyak amal saleh pada bulan Muharram, seperti menyantuni anak yatim, lanjut alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut.*

Baca juga: Persatuan umat diserukan UAS dari Bangka Belitung

Baca juga: Pawai Hijratul Rasul meriahkan 1 Muharram di Bone Bolango
Pewarta : Sukarli/Syamsuddin Hasan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019