Pol PP nyatakan latar belakang tawuran Manggarai belum diketahui

Pol PP nyatakan latar belakang tawuran Manggarai belum diketahui

Petugas Polres Metro Jakarta Selatan berjaga usai tawuran warga di sekitar Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019). ANTARA/HO-Polres Metro Jakarta Selatan/aa.

Jakarta (ANTARA) - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta menyatakan latar belakang tawuran di Manggarai yang terus menerus berulang hingga terkesan jadi tradisi, namun belum diketahui penyebabnya.

"Unsur wilayah seperti lurah hingga camat sedang mendalami inti masalahnya apakah soal ruang interaksi yang kurang, apa kaitan dengan tenaga kerja atau keterampilan mereka akhirnya nggak punya kerjaan. Itu sedang dilakukan pendalaman," kata Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin saat dihubungi, di Jakarta, Kamis.

Menurutnya, karena belum diketahui penyebabnya tersebut, hingga kini bentrokan warga di kawasan tersebut seakan tidak pernah terselesaikan.

Lebih lanjut, mengenai adanya informasi tawuran tersebut terkait peredaran narkotika, Arifin menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan dari pihak berwajib untuk mendalami.

"Itu silakan polisi atau BNN mendalami jika ada informasi seperti itu," ujarnya.

Terkait dengan langkah yang dijalankan oleh Satpol PP terkait tawuran tersebut, Arifin mengatakan pihaknya sudah melakukan langkah preventif yakni dengan pendirian posko keamanan bersama dengan unsur TNI dan Polri pada masing-masing kelurahan yang bertikai.

Kekuatan Satpol PP yang diturunkan dalam satu kali giliran (shift) jaga di satu posko, kata Arifin, adalah sekitar tiga orang dari satuan di tingkat kelurahan yang berkekuatan sekitar tujuh hingga 10 orang.

"Kami buat posko oleh anggota kita baik di wilayah Jakpus, Kelurahan Menteng (Jalan Menteng Tenggulun) maupun di Kelurahan Pasar Manggis, kita bikin posko bersama TNI-Polri. Kita jaga satu hari bergantian satu shift tiga orang. Kalau pecah bentrok, langsung komunikasikan via radio ke pusat, lalu menghubungi TNI dan Polri untuk tentukan langkah selanjutnya," kata Arifin pula.

Sebelumnya, pada Rabu (4/9) di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Jayakarta sempat terjadi tawuran antarwarga yang terlibat saling serang dengan batu dan juga membawa senjata tajam seperti samurai serta celurit.
Baca juga: Tawuran Manggarai, Sosiolog: Penghayatan Pancasila perlu ditingkatkan

Tawuran ini melibatkan tiga kelompok warga, yakni warga Tambak, Jakarta Pusat bersama warga Megazen, Tebet bersama-sama menyerang warga Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.

Belum diketahui pasti penyebab tawuran, namun informasi yang berkembang di masyarakat bahwa dua kelompok warga yakni Tambak Jakarta Pusat dan Meteng Tenggulun sudah lama bermusuhan. Karena tidak akur, kadang hanya dikarenakan persoalan sepele seperti saling ledek di sosial media, warga pun berani saling serang.
Baca juga: Pelaku tawuran Manggarai gunakan batu lintasan rel sebagai senjata

Sehari sebelum pecah tawuran, Selasa (3/9), antara kedua warga sudah saling bersiap-siap untuk menyerang. Awalnya warga berkumpul di bawah kolong rel kereta api dekat Terminal Manggarai.

Warga sempat dibubarkan oleh aparat kepolisian setempat dibantu Satpol PP. Tapi sehari berikutnya, pada Rabu, warga dengan jumlah lebih besar berkumpul dan saling serang.
Pewarta : Ricky Prayoga
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019