MER-C serukan Indonesia-PBB hentikan penyembunyian syuhada Palestina

MER-C serukan Indonesia-PBB hentikan penyembunyian syuhada Palestina

Ketua Presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad (kiri) saat bertemu Menlu Retno Marsudi (dua kiri) pada Selasa (15/1/209), di Kemenlu, Jakarta untuk melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap II di Gaza, palestina dan Rumah Sakit Persahabatan Indonesia-Myanmar. kiri). (FOTO ANTARA/HO-Rima Manzanaris-MER-C)

Jakarta (ANTARA) - Organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) menyerukan kepada Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menekan Israel yang menyembunyikan dan menahan jenazah para syuhada Palestina.

"MER-C Indonesia juga meminta organisasi besar dunia seperti PBB dan OKI untuk melakukan penekanan kepada Israel agar segera mengembalikan seluruh jenazah warga Palestina itu," kata Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad di Jakarta, Kamis.

Ia menegaskan lagi bahwa Pemerintah Indonesia diharapkan untuk terus melakukan lobi-lobi kepada PBB terkait masalah ini.

Dalam penjelasan kepada ANTARA, ia merujuk pada data kampanye nasional untuk pemulangan jenazah syuhada Palestina, di mana otoritas Israel telah menahan lebih dari sebanyak 260 jenazah Palestina sejak tahun 1967.

Baca juga: Tim MER-C Indonesia Siap Tembus Blokade Gaza

Ia mengemukakan bahwa Israel terus menambah daftar panjang kejahatan kemanusiaan terhadap Palestina di mana negeri zionis itu terus mempertahankan kebijakan kejinya selama bertahun-tahun, termasuk penahanan sebanyak 51 jenazah para syuhada di lemari pendingin sejak Oktober 2015.

"Kami mengutuk tindakan keji Israel yang telah menahan dan menyembunyikan jenazah para syuhada Palestina, karena melanggar semua hukum dan nilai-nilai universal kemanusiaan," kata dokter pertama Indonesia yang berhasil masuk ke garis terdepan saat konflik perang Palestina-Israel pada akhir 2008 hingga awal 2009 di Jalur Gaza itu.

"Tindakan Israel itu adalah sebuah kejahatan perang. Jenazah seharusnya dihormati, diberikan hak-haknya sesuai dengan aturan yang berlaku dan dikuburkan sesuai dengan keyakinannya," tambahnya.

Menurut dia sebagai bagian dari warga dunia, MER-C berkomitmen untuk terus mendukung perjuangan rakyat Palestina, karena menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah, hingga Palestina meraih kemerdekaannya.

Dikemukakannya bahwa salah satu dukungan bagi Palestina adalah pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza yang digagas pada 2009 setelah operasi perang besar-besaran Israel terhadap Jalur Gaza saat itu.

Kemudian MER-C langsung menyatakan komitmen bantuan jangka panjangnya dalam bentuk pembangunan RSI di Jalur Gaza.

Pekerjaan pembangunan dimulai pada Mei 2010 dan selesai pada 2015.

Pada akhir Desember 2015, RSI mulai dibuka untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Gaza yang membutuhkan.

Sebagai wilayah perang, kapasitas RSI di Gaza dengan 100 tempat tidur ternyata tidak cukup menampung warga yang datang berobat.

Apalagi, kata dia, ditambah lokasi RSI yang hanya berjarak 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga menjadi sarana kesehatan penting di Jalur Gaza untuk merujuk para korban.

Untuk itu, sejak Februari 2019, MER-C melakukan pengembangan RSI, yaitu pembangunan dua lantai tambahan untuk menambah kapasitas RS menjadi 200 tempat tidur dan menambah fasilitas lainnya yang diperlukan.

Saat ini, katanya, pembangunan masih terus berlangsung dan diperkirakan memakan waktu selama 1,5 hingga tahun.

Baca juga: Pahlawan nasional jadi nama ruang RS Gaza
Baca juga: Rumah sakit Indonesia akan berdiri di Hebron, Palestina, tahun 2021

 
Ketua Presidium organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) dr Sarbini Abdul Murad (kiri) saat bertemu Wakil Menlu Abdurrahman Mohammad (AM) Fachir di Kemenlu, Jakarta untuk melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap II di Gaza, Palestina. (FOTO ANTARA/HO-Rima Manzanaris-MER-C)


Ia menambahkan pada Sabtu (23/2) 2019 sebanyak 32 sukarelawan MER-C Indonesia diberangkatkan menuju Gaza, Palestina, untuk program pembangunan tahap II RSI di kawasan yang dilanda konflik itu.

Sebagian besar sukarelawan itu adalah dari divisi konstruksi, selain divisi medis.

Sebanyak 32 sukarelawan organisasi kegawatdaruratan kesehatan "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia diberangkatkan menuju Gaza, Palestina, untuk program pembangunan tahap II Rumah Sakit Indonesia (RSI) di kawasan yang dilanda konflik itu.

Keberangkatan tim sukarelawan ke Gaza, kata dia, dimungkinkan setelah didapatnya izin masuk Mesir dan Gaza yang diterima oleh MER-C dari Pemerintah Mesir dan otoritas setempat di Gaza.

Sarbini Abdul Murad menyebut bantuan Menlu RI, Retno Marsudi dan jajarannya di Kemenlu sebagai hal yang penting bagi berhasil masuknya tim sukarelawan MER-C ke Gaza, melalui pintu Rafah di perbatasan Mesir dan Gaza.

"Tim ini sebelumnya sudah menunggu setahun, hingga akhirnya setelah kami bertemu Menlu dan jajarannya, maka hasilnya adalah tim bisa berangkat," katanya.

Baca juga: Indonesia kecam keras serangan ke RSI Palestina
 
Pewarta : Andi Jauhary
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019