Krisis air dialami warga di perbatasan Indonesia-Malaysia

Krisis air dialami warga di perbatasan Indonesia-Malaysia

Warga perbatasan Indonesia - Malaysia di Kecamatan Puring Kencana, wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat terpaksa menggunakan air yang tidak layak untuk digunakan karena mengalami krisis air bersih . (FOTO ANTARA/Istimewa)

Putussibau, Kapuas Hulu (ANTARA) -
Camat Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat Agustinus Sargito mengatakan sumber air bersih Sungai Merakai saat ini mengering dan diduga tercemar oleh perkebunan kelapa sawit sehingga mengakibatkan warga di perbatasan Indonesia - Malaysia mengalami krisis air bersih.
 
"Sungai Merakai adalah sumber air bersih warga Puring Kencana, namun saat ini airnya kering dan tercemar. Untuk cuci dan mandi saja sudah tidak layak digunakan," kata Sargito saat dihubungi ANTARA dari Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat, Selasa.
 
Ia menjelaskan ada tiga desa di Puring Kencana yang benar- benar mengalami krisis air bersih yaitu Desa Sungai Antu di pusat Kecamatan Puring Kencana, dan Desa Langau serta Desa Sungai Mawang.
 
Menurut dia, tiga desa itu yang dilalui Sungai Merakai yang saat ini mengering dan diduga tercemar oleh perkebunan kelapa sawit.
 
" Untuk mencuci dan mandi sudah tidak layak, tapi apa boleh buat tidak ada pilihan lain masyarakat terpaksa tetap menggunakan sisa air yang ada itu untuk mencuci dan mandi," katanya.
 
Sedangkan untuk air minum, kata dia, masyarakat di perbatasan menggunakan air kemasan yang diperoleh dari kecamatan tetangga, bahkan dari negara Malaysia.
 
Dia berharap agar pihak perusahaan sawit memerhatikan kondisi masyarakat dengan solusi membangun jaringan baru untuk air bersih untuk kebutuhan dasar masyarakat.
 
" Perlu ada solusi dari perusahaan agar tidak terjadi setiap tahun persoalan yang sama," demikian Agustinus Sargito.
Pewarta : Teofilusianto Timotius
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019