Teroris tak lepaskan satu orang pun dalam serangan di Selandia Baru

Teroris tak lepaskan satu orang pun dalam serangan di Selandia Baru

Rangkaian bunga dan kartu diletakkan di tempat peringatan sebagai penghormatan bagi korban serangan masjid, dekat garis polisi di depan Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru, Minggu (17/3/2019). (REUTERS/JORGE SILVA)

Ankara (ANTARA) - Teroris supremasi kulit putih yang melancarkan serangan pekan lalu terhadap dua masjid di Selandia Baru bahkan tidak melepaskan perempuan dan anak kecil saat ia menembaki orang yang sedang Shalat Jumat.

Sedikitnya 50 orang Muslim wafat dan banyak lagi cedera ketika Brenton Tarrant (28), kelahiran Australia, memasuki Masjid An-Nur dan Linwood di Christchurch serta melepaskan tembakan secara membabi-buta di dalam kedua masjid tersebut.

Tarrant telah didakwa melakukan pembantaian dan ditahan di penjara dengan pengamanan maksimal di Auckland tanpa akses ke media cetak atau daring.

Empat anak kecil yang berusia di bawah 18 tahun meninggal dalam pembunuhan darah dingin dan anak-anak lain masih dirawat di beberapa rumah sakit yang berdekatan dengan lokasi penembakan, kata Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi.

Mucad Ibrahim

Mucad Ibrahim, yang berusia tiga tahun dan dilahirkan di Selandia Baru dari keluarga asal Somalia, sejauh ini adalah anak paling kecil yang dikonfirmasi telah meninggal di Masjid An-Nur.

Saudara dan ayahnya selamat dalam penembakan teroris itu dengan berpura-pura mati. Tapi Mucad, yang terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi, berdiri dan berlari.

Ia ditembak dan meninggal di pelukan ayahnya.

"Ia adalah Kiwi yang dilahirkan sebagai Muslim yang penuh energi, cinta dan kebahagiaan," kata keluarganya di dalam satu pernyataan.

Kiwi adalah nama sebutan yang digunakan masyarakat internasional buat orang dari Selandia Baru.

"Ia dikenang di masyarakat kami sebagai anak kecil yang berasal bukan dari apa-apa selain perwujudan belas kasih, kedamaian dan cinta Tuhan, " kata mereka.

"Mengetahui bahwa Selandia Baru dan seluruh dunia berdiri di belakang anak lelaki kami, kembali meyakinkan kami bahwa kekerasan dan rasisme tidak diterima di dunia kami," kata mereka.

Kata-kata kakaknya di Facebook masih berkumandang.

"Merindukanmu saudaraku tercinta," katanya.

Abdullah Dirie

Abdullah (4), yang paling muda di keluarganya, bersama empat saudaranya di dalam masjid yang semuanya selamat dari serangan teroris.

Keluarganya telah menyelamatkan diri dari Somalia, yang dicabik perang, pada pertengahan 1990-an sebagai pengungsi dan menetap di Selandia Baru.

Pamanya, Abdulrahman Hashi, seorang tokoh agama di satu masjid di Kota Minnepolis, AS, mengatakan kepada New Zealand Herald bahwa serangan teror adalah masalah ekstremisme.

"Sebagian orang mengira orang Muslim di negeri mereka adalah bagian dari itu, tapi ini adalah orang yang tak bersalah," katanya.

Sayyad Milne

"Saya mencintai anak lelaki kecil saya. Ia baru berusia 14 tahun," kata ayah Sayyad Milne, John, kepada The New Zealand Herald. Ia menangis sepanjang wawancara.

Sayyad, siswa yang berusia 10 tahun dan mencintai sepak bola, adalah salah satu dari dua siswa Sekolah Menengah Cashmere yang meninggal dalam serangan teroris bersama Hamza Mustafa --siswa yang berusia 12 tahun.

"Ia membuktikan dirinya bukan hanya sebagai penjaga gawang sejati tapi seorang rekan dan teman yang luar biasa, pemain tim sesungguhnya dengan sikap yang luar biasa dan kepribadian yang hangat serta bersahabat," kata St. Albans Shirley Football Club di dalam satu pernyataan di Facebook.

"Sayyad adalah salah seorang dari kami, dan kami akan selalu mengingat dia," katanya.

Hamza Mustafa

Hamza Mustafa, yang berusai 16 tahun, secara insting menelepon ibunya ketika penembakan dimulai di Masjid An-Nur.

"Ia mengatakan 'Ibu, ada seseorang memasuki masjid dan ia menembaki kami'," kata ibunya, Salwa, sebagaimana diberitakan jejaring berita Stuff.

"Saya menelepon 'Hamza, Hamza', dan saya dapat mendengar suara pelannya, dan setelah itu, semuanya hening," katanya.

Wanita itu terus memegang telepon selama 22 menit, dengan harapan Hamza akan menjawab.

"Teleponnya nyala, tapi saya tak bisa ngomong dengan dia. Setelah itu seseorang mengambil telepon tersebut dan memberitahu saya 'anakmu tidak bernafas, saya kira ia meninggal'."

"Hidup kami benar-benar telah berubah," kata Salwa setelah kehilangan suaminya dan "anak yang paling luar biasa" di Rumah Sakit Christchurch, tempat putranya yang lain, Zaid (13), mulai pulih dari dua luka tembak.

Ketika ditanya mengenai teroris supremasi kulit putih yang melakukan pembantaian tersebut, Salwa menjawab, "Tuhan akan menghukum dia."
Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019